02 November 2009

Dilema Pengungsi Sri Lanka



SALAH satu persoalan utama yang muncul saat suatu wilayah berada dalam situasi konflik adalah munculnya aliran pengungsi. Wilayah-wilayah konflik, seperti Pakistan, Afganistan, dan Sri Lanka, merupakan produsen pengungsi terbanyak.

Para pengungsi tidak sekadar berpindah dari satu daerah-ke daerah lain (masih di wilayah negaranya), tapi juga rela menelusuri hutan, menyeberangi dan terkatung-katung di lautan, meski harus membayar ribuan dolar, untuk bisa tinggal di negara lain.

Persoalan aliran pengungsi inilah yang memusingkan sejumlah negara. Australia, Indonesia, Malaysia, hingga Kanada, ikut-ikutan dibuat repot, khususnya oleh kedatangan para pengungsi Sri Lanka beberapa minggu terakhir. Mereka melarikan diri dari situasi tak menentu setelah perang berdekade antara pemerintah dan kelompok separatis Pembebasan Macan Tamil Eelam (LTTE) atau dikenal dengan Macan Tamil.

Sekitar 500 warga Sri Lanka mencoba masih masuk secara ilegal ke Asia dan Eropa dalam beberapa minggu ini, meskipun perang Macan Tamil diklaim telah berakhir dengan kemenangan pemerintah. Pekan lalu, sebuah kapal bermuatan 78 pengungsi Sri Lanka ditahan oleh Angkatan Laut Indonesia, setelah sebuah kapal lain yang memuat 225 pengungsi Sri Lanka lainnya juga ditahan beberapa minggu sebelumnya.

Kapal ketiga, yang membawa 36 pengungsi Sri Lanka, juga terdeteksi di pesisir Christmas Island, Australia. Di Kanada, 75 pengungsi Sri Lanka telah ditahan sebagai imigran ilegal. Sementara, sebuah kapal berpenumpang 135 orang, termasuk warga Sri Lanka, Pakistan dan Afganistan juga terdeteksi di pesisir Turki. Australia dan Kanada menjadi tempat tujuan favorit untuk mencari suaka karena di sana terdapat komunitas Tamil yang cukup besar.

"Beberapa di antara yang melarikan diri dengan kapal, merupakan orang-orang yang keluar dari kamp penahanan. Tamil merasa rentan (di tengah-tengah mayoritas Sinhalese), bahkan setelah berakhirnya perang. Itulah mengapa mereka ingin keluar dari Sri Lanka," kata seorang aktivis HAM, Mano Ganeshan.

Masalahnya, tak ada negara yang bersedia dengan tangan terbuka langsung menerima pengungsi, yang belum jelas asal-usul, latar belakang, dan tujuannya. Kerapkali para pengungsi ini tidak dilengkapi dengan dokumen-dokumen identitas yang lengkap. Mereka mencoba masuk ke suatu negara dengan ilegal. Apalagi pemerintah Sri Lanka sendiri telah mengeluarkan peringatan agar negara-negara lain berhati-hati terhadap para pengungsi tersebut, karena bisa saja mereka memiliki keterlibatan dengan Macan Tamil.

"Kami tentu saja tidak ingin mendorong orang-orang untuk menaiki kapal reyot, membayar ribuan dolar, menyeberangi samudera, dan datang ke Kanada secara ilegal," kata Menteri Imigrasi Kanada Jason Kenney, seperti dikutip Vancouver Sun.

Situasi pengungsi Sri Lanka memang dilematis. Bila diterima, para pengungsi, yang kebanyakan merupakan etnis minoritas Tamil ini, bisa saja menimbulkan masalah di kemudian hari di negara yang menampung mereka. Bila dibiarkan di kapal yang kerap kelebihan beban dan terapung-apung di lautan nyawa mereka pun terancam, kelaparan dan kondisi kesehatan yang buruk. Tapi, bila dipulangkan ke daerah asal, hidup mereka justru terancam disiksa atau dihukum mati oleh pemerintah Sri Lanka sendiri.

"Kebanyakan Tamil ingin meninggalkan Sri Lanka karena mereka tidak merasa aman. Tapi, ada banyak juga yang pergi karena alasan ekonomi. Sebenarnya, dengan uang yang mereka bayar ke agen, mereka dengan mudah dapat memulai sebuah bisnis kecil di sini. Tapi, mereka lebih memilih untuk menjual perhiasan dan properti mereka demi mengumpulkan uang untuk pergi ke luar negeri," kata seorang politisi pro-Tamil Dharmalingam Sithadthan, seperti dikutip AFP.
Solusi mendesak mutlak diperlukan, sebelum persolan pengungsi ini menjadi semakin besar dan merepotkan. Bagaimanapun, krisis kemanusiaan masih mengancam kehidupan mereka.

Astri Ihsan/AFP/ABC/Sunday Times/Vancouver Sun

Published by Jurnal Nasional

No comments:

Post a Comment