Showing posts with label Baby. Show all posts
Showing posts with label Baby. Show all posts
05 April 2012
11 March 2012
Only Babies Know
Membaca artikel ini, Babies Can Tell Jokes And Make Friends Before They Can Talk, membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ya, saya setuju, bayi bisa bercanda dan berteman, bahkan sebelum mereka bisa berbicara.
Saya teringat kejadian seminggu lalu saat saya berada di nursing room Pacific Place. Saat saya sedang menyusui Al di dalam bilik kecil, ada seorang ibu, bayinya dan baby sitter masuk juga ke nursing room. Karena saya dan Al berada di dalam bilik, saya hanya mendengar suaranya. Tampaknya sang baby sitter sedang mengganti popok si bayi. Usia si bayi sendiri sepertinya lebih kecil dari Al, hehehe based on suara tangisannya.
Setelah tangisan si bayi berhenti, dia mulai mengoceh-oceh khas bayi. "au..au..au.." atau apalah bunyinya hehehe.. Al pun tiba-tiba menyimak suara tersebut dan berhenti menyusu. Al membalas ocehan si bayi yang berada di luar. Eh, dibalas lagi oleh si bayi tersebut. Alhasil, Al yang berada di dalam bilik sahut-sahutan dengan bayi yang berada di luar dengan bahasa ajaibnya. Hal itu berlangsung cukup lama. Saya sempat terkikik mendengarnya.
See? Benar kan? Walaupun belum bisa berbicara jelas, bayi punya caranya sendiri untuk berkomunikasi dan berteman. Orang dewasa mungkin tidak mengerti, tapi saya yakin, mereka sesama bayi tahu maksudnya. :))
Saya teringat kejadian seminggu lalu saat saya berada di nursing room Pacific Place. Saat saya sedang menyusui Al di dalam bilik kecil, ada seorang ibu, bayinya dan baby sitter masuk juga ke nursing room. Karena saya dan Al berada di dalam bilik, saya hanya mendengar suaranya. Tampaknya sang baby sitter sedang mengganti popok si bayi. Usia si bayi sendiri sepertinya lebih kecil dari Al, hehehe based on suara tangisannya.
Setelah tangisan si bayi berhenti, dia mulai mengoceh-oceh khas bayi. "au..au..au.." atau apalah bunyinya hehehe.. Al pun tiba-tiba menyimak suara tersebut dan berhenti menyusu. Al membalas ocehan si bayi yang berada di luar. Eh, dibalas lagi oleh si bayi tersebut. Alhasil, Al yang berada di dalam bilik sahut-sahutan dengan bayi yang berada di luar dengan bahasa ajaibnya. Hal itu berlangsung cukup lama. Saya sempat terkikik mendengarnya.
See? Benar kan? Walaupun belum bisa berbicara jelas, bayi punya caranya sendiri untuk berkomunikasi dan berteman. Orang dewasa mungkin tidak mengerti, tapi saya yakin, mereka sesama bayi tahu maksudnya. :))
DSA
Bagi saya, mencari Dokter Spesialis Anak (DSA) yang sreg di hati jauh lebih sulit ketimbang mencari pacar, memasak, bikin artikel, atau apalah, pokoknya susah. Karena alasan itulah, saya akhirnya memutuskan membawa Al imunisasi di Puskesmas saja. Setidaknya, saya tidak berharap lebih dari tenaga kesehatan yang membantu imunisasi, biayanya murah (Rp2.000 saja), dan sekaligus ikut membantu menyukseskan program pemerintah.
Ada beberapa DSA yang pernah menangani Al. Pertama, dokter yang merawat Al saat baru lahir dan dirawat di Perina RS H**mina Jatinegara. Namanya dr. I*ham Amir. Sumpah, saya benar-benar ilfeel dengan dokter yang satu ini. Selama dua minggu Al dirawat di Perina, saya hanya bisa bertatap muka dengannya sebanyak dua kali. Dia visite ke ruang Perina tanpa waktu yang pasti. Kadang subuh, kadang pagi, kadang siang, argghh. Bertemu dengan dia pun, kami tak bisa berkonsultasi banyak. Bak pasukan militer, jalannya cepat, bicaranya tegas, tak komunikatif.
Setelah Al keluar dari RS, saya sempat membawa Al imunisasi polio dan hepatitis ke dokter ini. Omaigad, antrean pasiennya panjang sekali. Tampaknya itu yang membuat dia tak ingin berlama-lama dengan pasien. Satu pasien sepertinya tak lebih dari 3 menit. Yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk "PUTUS" adalah ketika saya bertanya serius tentang kenapa anak saya saat tidur terkadang sering bergetar seperti menggigil. Dan dia menjawab sekenanya "emang sekarang banyak yang menggetarkan dunia." Enough!! Such a waste membawa anak saya ke dokter yang asal bicara saja.
Saya juga pernah membawa Al ke dr. A*ti Praborini di RSIA yang cukup bagus di daerah Kemang. FYI, rumah sakit ini bagus sekali. Tempatnya luas, bersih, nyaman, mirip hotel, ada playground, bahkan counter Mothercare. Tak heran bila tarifnya pun cukup mahal. Menurut hasil browsing saya, sebenarnya dokter ini banyak juga yang merekomendasikan. Dia terkenal sebagai dokter yang pro ASI. Waktu itu Al pilek dan batuk selama seminggu. Saya sebenarnya senang karena dokter ini benar-benar pro ASI. Berulang kali dia menekankan mengenai pentingnya ASI. Dia pun tak terburu-buru memeriksa Al meskipun antrean pasiennya cukup banyak.
Yang membuat saya tidak sreg adalah ketika dia meresepkan antibiotik untuk meredakan pilek Al. Antibiotik yang diresepkan pun dalam bentuk puyer. Hmmm, sebut saya pasien yang sok tahu. Tapi, setahu saya pilek memang tak membutuhkan antibiotik. Antibiotik untuk membunuh/melemahkan bakteri, sementara pilek kan disebabkan virus. Yaaaaa, ga nyambung tohhh. Dan yang kedua, resep puyer sudah tidak dianjurkan lagi.
Dokter ini juga meminta Al terapi inhalasi sebanyak 3 kali untuk mengencerkan dahaknya. Akhirnya, saya dan suami memutuskan untuk membawa Al terapi inhalasi, tapi obatnya tak perlu diminumkan. Alhamdulillah, tanpa perlu meminumkan obat yang tak perlu, Al sembuh sendiri beberapa hari kemudian.
Berikutnya adalah salah satu dokter perempuan di RS. M**inir Cilandak saat Al mengalami panas tinggi selama tiga hari. Saya bahkan tak tahu siapa nama dokter ini. Antreannya panjang, sekali panggil, lima pasien masuk ke dalam ruangan. Kebayang kan, anak yang tidak terlalu sakit bisa jadi sakit beneran karena tertular dari pasien lainnya. Saya membawa Al kesana hanya dengan pertimbangan terdekat dari rumah. Ia memeriksa buru-buru dan langsung menganjurkan periksa darah.
Dengan pemeriksaan sepintas, kesimpulannya pun terburu-buru. Ia memvonis saya dan Al anemia. Anemia menyebabkan panas tinggi?? Saya meragu. Dan yang paling membuat saya kesal adalah ketika dia bilang di atas 6 bulan, ASI tak memenuhi kebutuhan gizi bayi lagi sehingga perlu susu formula. Ia bahkan menyebut satu merk susu formula yang katanya mahal dan bagus. Deymmmm!! Let's call her dokter agen susu formula!
(Hmmm, di atas 6 bulan, ASI saja memang tak cukup, itulah mengapa bayi sudah harus diberikan makanan padat. Bukan begitu sodara-sodara??? Jadi, bukan susu formula ya jawabannya!!)
Yang teranyar adalah DSA di salah satu klinik di Cilandak KKO saat Al terkena flu Singapore. Kliniknya cukup bagus, lengkap, dan dekat dari rumah. Namanya dr. Isk**dar. Sebelumnya, saya sempat beberapa kali membawa Al ke dokter ini. Sebenarnya saya merasa cukup cocok dengan dokter ini. Ia memeriksa dengan seksama dan cukup ramah. Tapi, entah kenapa malam itu si dokter ini menjadi sangat menyebalkan dan otomatis langsung masuk dalam blacklist saya!!
Saya sendiri heran dan sampai sekarang tiap mengingat kejadian itu masih terasa kesal. Saat itu, ia memeriksa Al dengan teliti sampai akhirnya ia mengatakan Al terkena flu Singapore. Saya pun bertanya, apa penyebabnya? Ia menjawab virus. Saat dokter menuliskan resep, saya bertanya, apa flu Singapore benar-benar butuh antibiotik? Ia menjawab iya. Saya bertanya lagi, kenapa anak saya sering pilek, dok? Ia menjawab, karena orang tuanya memiliki bakat alergi. Dan saya bergumam, ohh alergi ternyata bisa diturunkan ke anak ya dok.
Dan ini yang mengejutkan..
Dengan ketus dia mengatakan "Ibu dengerin saya. Jangan tanya lagi. Kesel kan saya"
What???? Kenapa nih dokter?? Setiap pasien memiliki hak untuk bertanya. Untuk apa saya membayar bila tak memiliki hak untuk berkonsultasi? Lagipula, saya perlu tahu apa yang terjadi dengan anak saya, bagaimana penanganannya, obat apa yang diresepkan. Tak ada pertanyaan berlebihan yang saya ajukan.
Yaaa gitu dehh.. Sekarang Al DSA-less lagi deh.. Sebenarnya sejumlah teman telah merekomendasikan beberapa DSA. Tapi, faktor lokasi juga menjadi salah satu pertimbangan saya. Saya (Al) benar-benar butuh DSA, bukan hanya untuk berobat kalau Al lagi sakit, tapi juga konsultasi mengenai tumbuh kembang Al dan imunisasi yang dianjurkan untuk satu tahun ke atas. Ada yang punya rekomendasi lagi???
Ada beberapa DSA yang pernah menangani Al. Pertama, dokter yang merawat Al saat baru lahir dan dirawat di Perina RS H**mina Jatinegara. Namanya dr. I*ham Amir. Sumpah, saya benar-benar ilfeel dengan dokter yang satu ini. Selama dua minggu Al dirawat di Perina, saya hanya bisa bertatap muka dengannya sebanyak dua kali. Dia visite ke ruang Perina tanpa waktu yang pasti. Kadang subuh, kadang pagi, kadang siang, argghh. Bertemu dengan dia pun, kami tak bisa berkonsultasi banyak. Bak pasukan militer, jalannya cepat, bicaranya tegas, tak komunikatif.
Setelah Al keluar dari RS, saya sempat membawa Al imunisasi polio dan hepatitis ke dokter ini. Omaigad, antrean pasiennya panjang sekali. Tampaknya itu yang membuat dia tak ingin berlama-lama dengan pasien. Satu pasien sepertinya tak lebih dari 3 menit. Yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk "PUTUS" adalah ketika saya bertanya serius tentang kenapa anak saya saat tidur terkadang sering bergetar seperti menggigil. Dan dia menjawab sekenanya "emang sekarang banyak yang menggetarkan dunia." Enough!! Such a waste membawa anak saya ke dokter yang asal bicara saja.
Saya juga pernah membawa Al ke dr. A*ti Praborini di RSIA yang cukup bagus di daerah Kemang. FYI, rumah sakit ini bagus sekali. Tempatnya luas, bersih, nyaman, mirip hotel, ada playground, bahkan counter Mothercare. Tak heran bila tarifnya pun cukup mahal. Menurut hasil browsing saya, sebenarnya dokter ini banyak juga yang merekomendasikan. Dia terkenal sebagai dokter yang pro ASI. Waktu itu Al pilek dan batuk selama seminggu. Saya sebenarnya senang karena dokter ini benar-benar pro ASI. Berulang kali dia menekankan mengenai pentingnya ASI. Dia pun tak terburu-buru memeriksa Al meskipun antrean pasiennya cukup banyak.
Yang membuat saya tidak sreg adalah ketika dia meresepkan antibiotik untuk meredakan pilek Al. Antibiotik yang diresepkan pun dalam bentuk puyer. Hmmm, sebut saya pasien yang sok tahu. Tapi, setahu saya pilek memang tak membutuhkan antibiotik. Antibiotik untuk membunuh/melemahkan bakteri, sementara pilek kan disebabkan virus. Yaaaaa, ga nyambung tohhh. Dan yang kedua, resep puyer sudah tidak dianjurkan lagi.
Dokter ini juga meminta Al terapi inhalasi sebanyak 3 kali untuk mengencerkan dahaknya. Akhirnya, saya dan suami memutuskan untuk membawa Al terapi inhalasi, tapi obatnya tak perlu diminumkan. Alhamdulillah, tanpa perlu meminumkan obat yang tak perlu, Al sembuh sendiri beberapa hari kemudian.
Berikutnya adalah salah satu dokter perempuan di RS. M**inir Cilandak saat Al mengalami panas tinggi selama tiga hari. Saya bahkan tak tahu siapa nama dokter ini. Antreannya panjang, sekali panggil, lima pasien masuk ke dalam ruangan. Kebayang kan, anak yang tidak terlalu sakit bisa jadi sakit beneran karena tertular dari pasien lainnya. Saya membawa Al kesana hanya dengan pertimbangan terdekat dari rumah. Ia memeriksa buru-buru dan langsung menganjurkan periksa darah.
Dengan pemeriksaan sepintas, kesimpulannya pun terburu-buru. Ia memvonis saya dan Al anemia. Anemia menyebabkan panas tinggi?? Saya meragu. Dan yang paling membuat saya kesal adalah ketika dia bilang di atas 6 bulan, ASI tak memenuhi kebutuhan gizi bayi lagi sehingga perlu susu formula. Ia bahkan menyebut satu merk susu formula yang katanya mahal dan bagus. Deymmmm!! Let's call her dokter agen susu formula!
(Hmmm, di atas 6 bulan, ASI saja memang tak cukup, itulah mengapa bayi sudah harus diberikan makanan padat. Bukan begitu sodara-sodara??? Jadi, bukan susu formula ya jawabannya!!)
Yang teranyar adalah DSA di salah satu klinik di Cilandak KKO saat Al terkena flu Singapore. Kliniknya cukup bagus, lengkap, dan dekat dari rumah. Namanya dr. Isk**dar. Sebelumnya, saya sempat beberapa kali membawa Al ke dokter ini. Sebenarnya saya merasa cukup cocok dengan dokter ini. Ia memeriksa dengan seksama dan cukup ramah. Tapi, entah kenapa malam itu si dokter ini menjadi sangat menyebalkan dan otomatis langsung masuk dalam blacklist saya!!
Saya sendiri heran dan sampai sekarang tiap mengingat kejadian itu masih terasa kesal. Saat itu, ia memeriksa Al dengan teliti sampai akhirnya ia mengatakan Al terkena flu Singapore. Saya pun bertanya, apa penyebabnya? Ia menjawab virus. Saat dokter menuliskan resep, saya bertanya, apa flu Singapore benar-benar butuh antibiotik? Ia menjawab iya. Saya bertanya lagi, kenapa anak saya sering pilek, dok? Ia menjawab, karena orang tuanya memiliki bakat alergi. Dan saya bergumam, ohh alergi ternyata bisa diturunkan ke anak ya dok.
Dan ini yang mengejutkan..
Dengan ketus dia mengatakan "Ibu dengerin saya. Jangan tanya lagi. Kesel kan saya"
What???? Kenapa nih dokter?? Setiap pasien memiliki hak untuk bertanya. Untuk apa saya membayar bila tak memiliki hak untuk berkonsultasi? Lagipula, saya perlu tahu apa yang terjadi dengan anak saya, bagaimana penanganannya, obat apa yang diresepkan. Tak ada pertanyaan berlebihan yang saya ajukan.
Yaaa gitu dehh.. Sekarang Al DSA-less lagi deh.. Sebenarnya sejumlah teman telah merekomendasikan beberapa DSA. Tapi, faktor lokasi juga menjadi salah satu pertimbangan saya. Saya (Al) benar-benar butuh DSA, bukan hanya untuk berobat kalau Al lagi sakit, tapi juga konsultasi mengenai tumbuh kembang Al dan imunisasi yang dianjurkan untuk satu tahun ke atas. Ada yang punya rekomendasi lagi???
Challenging One
Anak berusia satu tahun ternyata sangat menyenangkan. Me, my hubby, and our little boss Al, having so much fun times. Ada-ada saja kelakuan Al yang bikin kami tergelak. Meski belum bisa berjalan, tapi Al lincah sekali. Dia benar-benar asyik menikmati kemampuannya menjelajahi rumah dengan merangkak ataupun merambat, turun sendiri dari tempat tidur, menyambut papanya saat baru pulang, sibuk tunjuk sana-tunjuk sini dengan ocehan-ocehan yang sangat menghibur dan sering sekali membuat kami tertawa terbahak-bahak.
Saya sangat menikmati setiap perkembangan Al. Soal target milestones, ahh itu tak perlu dirisaukan. Soal pertanyaan orang-orang, "Al sudah jalan belum?" "Kok belum jalan?" "Giginya sudah berapa?" kok begini, kok begitu, and so and so, kadang kesel juga sih. Wong, emaknya aja santai, kok orang lain yang sibuk?? Di saat dia sudah siap berjalan, dia akan jalan dengan sendirinya. Tidak ada yang perlu dipaksakan. Cukup dengan stimulasi saja.
Haha akhirnya saya bisa juga sampai di titik "no worries" ini. Padahal dulu saya sama sekali bukan orang yang "santai." Maklum, melahirkan anak prematur pasti menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar untuk berkompromi, lebih sabar dan tak perlu memaksakan keadaan. Semua akan terjadi di saat yang tepat. I just need to wait, patiently and of course happily. :))
Update-nya apa ya? Ohh, hampir sebulan yang lalu, berat Al 10 kg saja. Tidak gendut, tidak kurus, pas. Mudah-mudahan beratnya sudah bertambah lagi sekarang. Kesehatan? Hmmm, hampir tiap bulan ada aja sakit menghampiri. But, it's okay. Fase sakit ini, konon katanya, bakal terus menghampiri anak sampai usianya dua tahun. Yang perlu dilakukan, ya cuma tenang dan membekali diri dengan banyak pengetahuan.
Perkembangan Al yang menurut saya lumayan pesat dalam sebulan terakhir ini adalah bicaranya. Al juga sudah bisa memahami perintah-perintah sederhana, misalnya saat saya meminta barang yang ada di tangannya atau saat saya memintanya membawakan barang yang tercecer di lantai. Ohh, yang paling membuat saya dan suami terpukau adalah Al ternyata sudah bisa cemburu. Al kesal sekali bahkan kadang menangis bila melihat papanya memeluk atau mencium saya. Hahaha..anakku kamu posesif sekali sama Mom..
Apalagi ya? hehehe..Pokoknya semua harapan terbaik lah, namanya juga buat anak. Semoga Al tumbuh besar, sehat, soleh, cerdas, jadi anak yang menyenangkan bagi semua orang. Aamin.
Saya sangat menikmati setiap perkembangan Al. Soal target milestones, ahh itu tak perlu dirisaukan. Soal pertanyaan orang-orang, "Al sudah jalan belum?" "Kok belum jalan?" "Giginya sudah berapa?" kok begini, kok begitu, and so and so, kadang kesel juga sih. Wong, emaknya aja santai, kok orang lain yang sibuk?? Di saat dia sudah siap berjalan, dia akan jalan dengan sendirinya. Tidak ada yang perlu dipaksakan. Cukup dengan stimulasi saja.
Haha akhirnya saya bisa juga sampai di titik "no worries" ini. Padahal dulu saya sama sekali bukan orang yang "santai." Maklum, melahirkan anak prematur pasti menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar untuk berkompromi, lebih sabar dan tak perlu memaksakan keadaan. Semua akan terjadi di saat yang tepat. I just need to wait, patiently and of course happily. :))
Update-nya apa ya? Ohh, hampir sebulan yang lalu, berat Al 10 kg saja. Tidak gendut, tidak kurus, pas. Mudah-mudahan beratnya sudah bertambah lagi sekarang. Kesehatan? Hmmm, hampir tiap bulan ada aja sakit menghampiri. But, it's okay. Fase sakit ini, konon katanya, bakal terus menghampiri anak sampai usianya dua tahun. Yang perlu dilakukan, ya cuma tenang dan membekali diri dengan banyak pengetahuan.
Perkembangan Al yang menurut saya lumayan pesat dalam sebulan terakhir ini adalah bicaranya. Al juga sudah bisa memahami perintah-perintah sederhana, misalnya saat saya meminta barang yang ada di tangannya atau saat saya memintanya membawakan barang yang tercecer di lantai. Ohh, yang paling membuat saya dan suami terpukau adalah Al ternyata sudah bisa cemburu. Al kesal sekali bahkan kadang menangis bila melihat papanya memeluk atau mencium saya. Hahaha..anakku kamu posesif sekali sama Mom..
Apalagi ya? hehehe..Pokoknya semua harapan terbaik lah, namanya juga buat anak. Semoga Al tumbuh besar, sehat, soleh, cerdas, jadi anak yang menyenangkan bagi semua orang. Aamin.
04 March 2012
Nursing Strike
Satu lagi pengalaman baru yang saya dapatkan sewaktu Al terkena Flu Singapore pekan lalu, yaitu Nursing Strike. Ohmaigad, saat Al resmi menyandang gelar Master ASI, di hari itu juga Al mulai menolak untuk menyusu langsung pada saya.
Rasanya??? Huhuhu, patah hati!! Serius, saya benar-benar merasa patah hati saat Al nangis dan berteriak-teriak saat akan saya susui. Bahkan, saya baru mengangkat sedikit baju saya, dia sudah mulai menangis. Sedihnya..
Menurut Baby Center, Natural Child, Stork, KellyMom, banyak hal yang dapat memicu kondisi nursing strike. Bisa saja karena ada yang menyakitkan di mulutnya, akan tumbuh gigi, infeksi pada telinga, pilek, berkurangnya suplai ASI, atau bahkan perubahan aroma sang ibu akibat mengganti toiletry yang biasa digunakan. Nursing strike bisa jadi juga karena terjadi perubahan rasa ASI disebabkan konsumsi obat-obat, vitamin, perubahan hormon (kehamilan ataupun menstruasi).
Kemungkinan terbesar Al mogok susu adalah karena sariawan di mulutnya. Awalnya, meski menolak menyusu langsung pada saya, Al masih mau minum susu dengan menggunakan dot ataupun sendok. Tapi, pas hari ketiga HFMD, Al benar-benar menolak minum susu dari berbagai media. Al justru selalu meminta air putih, yang biasanya tidak terlalu disukainya.
Meski begitu, saya tetap berusaha menyodorkan nenen ke Al. Saat ia sangat mengantuk, Al biasanya tanpa sadar mau menghisap. Tapi, begitu tersadar, Al langsung melepas nenennya dan menangis.
Yang stres ya saya!! Saya khawatir Al dehidrasi. Berbagai pikiran berkecamuk. Apakah saya hamil (halooo... apa kabar KB spiral 3 tahun saya)? Apa Al self weaning (huhuhu sedihnya..Al kan baru berusia setahun dan saya berencana menyusuinya hingga 2 tahun)? Apakah rasa ASI saya berubah? Apakah Al benar-benar kesakitan saat menyusu? Saya pun dengan sangat sedih mulai mempersiapkan mental bila Al benar-benar menyapih dirinya sendiri.
Untungnya badai pasti berlalu.. Setelah flu Singapore-nya sembuh, lima hari mogok menyusu, ternyata dan akhirnya Al mau kembali menyusu. Saat dia terlihat mulai mengantuk, saya menggendongnya ke tempat tidur dan menyusuinya. Tanpa drama, tanpa teriakan, tanpa tangisan, Al menyusu seperti biasa, lalu tertidur pulas. Tengah malam, saat terbangun, ia pun langsung mencari nenen dan tertidur kembali. Huaaaa..super lega..
Kesimpulannya, nursing strike memang bisa terjadi kapan saja. Tapi harus diingat, nursing strike bisa jadi merupakan alarm yang diberikan anak kita untuk memberi tahu kita bahwa terjadi sesuatu yang tidak enak & tidak nyaman pada dirinya. Tak ada cara untuk memaksanya menyusu. Tapi kita bisa mengakalinya dengan mencampurkan ASI di makanannya, jangan pernah bosan menawarkannya ASI dengan media apapun, usahakan kebutuhan cairan tetap terpenuhi, bisa dengan air putih ataupun buah. Kuncinya memang hanya sabar menanti. Jangan lupa pula untuk tetap memompa ASI agar suplainya tetap terjaga. Hehehe.. Just for share.. :))
Rasanya??? Huhuhu, patah hati!! Serius, saya benar-benar merasa patah hati saat Al nangis dan berteriak-teriak saat akan saya susui. Bahkan, saya baru mengangkat sedikit baju saya, dia sudah mulai menangis. Sedihnya..
Menurut Baby Center, Natural Child, Stork, KellyMom, banyak hal yang dapat memicu kondisi nursing strike. Bisa saja karena ada yang menyakitkan di mulutnya, akan tumbuh gigi, infeksi pada telinga, pilek, berkurangnya suplai ASI, atau bahkan perubahan aroma sang ibu akibat mengganti toiletry yang biasa digunakan. Nursing strike bisa jadi juga karena terjadi perubahan rasa ASI disebabkan konsumsi obat-obat, vitamin, perubahan hormon (kehamilan ataupun menstruasi).
Kemungkinan terbesar Al mogok susu adalah karena sariawan di mulutnya. Awalnya, meski menolak menyusu langsung pada saya, Al masih mau minum susu dengan menggunakan dot ataupun sendok. Tapi, pas hari ketiga HFMD, Al benar-benar menolak minum susu dari berbagai media. Al justru selalu meminta air putih, yang biasanya tidak terlalu disukainya.
Meski begitu, saya tetap berusaha menyodorkan nenen ke Al. Saat ia sangat mengantuk, Al biasanya tanpa sadar mau menghisap. Tapi, begitu tersadar, Al langsung melepas nenennya dan menangis.
Yang stres ya saya!! Saya khawatir Al dehidrasi. Berbagai pikiran berkecamuk. Apakah saya hamil (halooo... apa kabar KB spiral 3 tahun saya)? Apa Al self weaning (huhuhu sedihnya..Al kan baru berusia setahun dan saya berencana menyusuinya hingga 2 tahun)? Apakah rasa ASI saya berubah? Apakah Al benar-benar kesakitan saat menyusu? Saya pun dengan sangat sedih mulai mempersiapkan mental bila Al benar-benar menyapih dirinya sendiri.
Untungnya badai pasti berlalu.. Setelah flu Singapore-nya sembuh, lima hari mogok menyusu, ternyata dan akhirnya Al mau kembali menyusu. Saat dia terlihat mulai mengantuk, saya menggendongnya ke tempat tidur dan menyusuinya. Tanpa drama, tanpa teriakan, tanpa tangisan, Al menyusu seperti biasa, lalu tertidur pulas. Tengah malam, saat terbangun, ia pun langsung mencari nenen dan tertidur kembali. Huaaaa..super lega..
Kesimpulannya, nursing strike memang bisa terjadi kapan saja. Tapi harus diingat, nursing strike bisa jadi merupakan alarm yang diberikan anak kita untuk memberi tahu kita bahwa terjadi sesuatu yang tidak enak & tidak nyaman pada dirinya. Tak ada cara untuk memaksanya menyusu. Tapi kita bisa mengakalinya dengan mencampurkan ASI di makanannya, jangan pernah bosan menawarkannya ASI dengan media apapun, usahakan kebutuhan cairan tetap terpenuhi, bisa dengan air putih ataupun buah. Kuncinya memang hanya sabar menanti. Jangan lupa pula untuk tetap memompa ASI agar suplainya tetap terjaga. Hehehe.. Just for share.. :))
03 March 2012
Halooo Flu Singapore.. Bad to Meet You..!
Ternyata yang saya khawatirkan justru terjadi. Al akhirnya terkena Hand, Foot, Mouth Disease (HFMD) atau yang lebih dikenal dengan sebut Flu Singapore. Penyakit ini menyerang anak mulai dari usia 0-10 tahun. Sungguh oh sungguh penyakit ini tak tahu diri. Apa coba datang pas Al ulang tahun yang pertama?? Huhhh..!!
Awalnya, Al mengalami pilek dan agak batuk selama sepekan. Tapi, batuk & pileknya tidak parah, hanya meler saja. Kebetulan Papa Al memang sempat pilek, jadi saya pikir Al ketularan pilek biasa. Sehari sebelum Al ulang tahun, saat saya bangun subuh dan akan bersiap ke kantor, saya merasa badan Al panas. Tertera 38,8 derajat di termometer digital. "Kok panas banget?" tanya saya dalam hati. Saya pun akhirnya tak jadi berangkat kerja.
Pagi itu, setelah minum Tempra, panas Al sempat turun tapi hanya sebentar saja. Menjelang siang, panas Al kembali naik (38,7). Tak sengaja, saya melihat ada beberapa bintik-bintik di dekat siku Al. Tapi, saya mengira itu hanya bintik-bintik alergi saja. Beberapa jam kemudian, saya melihat ada beberapa bintik di betis dan paha Al. Kecil dan hanya beberapa biji. Menjelang sore, bintik-bintiknya terlihat semakin jelas, mulai banyak dan merah.
Meski telah banyak mendengar dan membaca tentang HFMD, saya sama sekali tak berpikir bahwa Al terkena penyakit itu. Saya malah mengira Al terkena cacar. Saya dan Papa Al memutuskan untuk membawa Al ke klinik malam itu.
Dokter memeriksa cukup seksama. Saya sempat melihat beberapa sariawan saat dokter memeriksa mulut Al. Dokter pun menyatakan Al terkena flu Singapore. Dokter mengatakan, flu ini tidak berbahaya, tidak mematikan, dan akan sembuh dalam waktu lima hari. Ia meresepkan salep Acyclovir, obat penurun panas dan antivirus racikan (puyer!!!).
Dengan berbagai pertimbangan, bisa dilihat di sini dan di sini dan beberapa bacaan lain, saya memutuskan untuk tidak memberikan Al antivirus yang diresepkan dokter. Bukannya mau under treatment, tapi saya hanya ingin rasional dalam memberikan obat kepada anak saya. Bila memang perlu, pastinya akan saya berikan. Tapi bila tak perlu, untuk apa memperberat kerja ginjal bayi dengan obat-obatan? Saya hanya memberikan Al Tempra untuk menurunkan panasnya dan mengoleskan salep Acyclovir.
Malam itu Al rewel sekali. Dia terus-terusan menangis, Tidurnya tak nyenyak. Badannya masih panas. Al tak mau menyentuh makanannya. Yang paling menyedihkan adalah Al menolak untuk menyusu langsung dari saya. Ia hanya mau minum susu dari botol, itupun setelah dibujuk, dan minumya pun sedikit sekali. Tapi, Al terus-terusan minta air putih, padahal biasanya ia tak begitu suka.
Kondisi itu berlanjut hingga keesokan harinya. Bintik atau bentol atau ruam atau apalah namanya semakin banyak. Tapi, yang banyak hanya di bagian kaki (paha, betis dan telapak). Di bagian tangan Al, bintiknya tak terlalu banyak, hanya ada di dekat siku dan telapak.
Hari ketiga, Al sudah tak panas. Bintik-bintiknya sebagian mulai menghitam seperti bekas luka. Al mulai ceria walaupun benar-benar tak mau lepas dari saya. Al masih malas makan dan menolak nenen. Saya juga tak ingin memaksa Al makan karena saya tahu rasanya pasti sakit. Orang dewasa saja bisa kehilangan nafsu makan bila sariawan, apalagi bayi yang sedang memiliki banyak sariawan di mulutnya. Untungnya, Al masih mau makan jeruk (which is mengandung banyak vit C yang mempercepat penyembuhan sariawan), pure apel, yoghurt, dan corn flakes+ASIP.
Hari keempat, bintik-bintik HFMD itu semakin banyak yang menghitam, tapi nafsu makan Al mulai membaik. Saya membuatkannya puding kesukaannya dan nasi daging yang dihabiskan beberapa suap. Hari kelima, Al bisa dikatakan sudah sembuh walaupun kakinya penuh dengan bintik-bintik hitam. Al sudah kembali ceria, aktif, penuh senyum.
HFMD memang menyeramkan dan menyebalkan. Bagi yang memiliki anak sepertinya memang harus waspada. Penyakit ini memang tengah mewabah di Jakarta. Bahkan, di sekolah adik ipar saya, hampir seluruh teman kelasnya terkena penyakit ini dan sudah bisa dipastikan adik ipar saya lah yang menularkannya ke Al. Walaupun sudah sembuh, ternyata HFMD masih bisa menular ke anak lain dua atau tiga minggu setelahnya.
So, untuk mencegah penularan, sebaiknya untuk saat ini hingga wabah HFMD ini mereda, jangan membawa anak-anak ke tempat umum bila tak perlu. Persering cuci tangan, terutama bila baru datang dari luar. Dan yang terpenting, tingkatkan daya tahan tubuh anak dengan memberikan makanan bergizi. Kalaupun akhirnya tertular, tak ada jalan lain, be patient and rational. Insya Allah penyakit ini tak berlangsung lama dan sembuh dengan sendirinya.
Awalnya, Al mengalami pilek dan agak batuk selama sepekan. Tapi, batuk & pileknya tidak parah, hanya meler saja. Kebetulan Papa Al memang sempat pilek, jadi saya pikir Al ketularan pilek biasa. Sehari sebelum Al ulang tahun, saat saya bangun subuh dan akan bersiap ke kantor, saya merasa badan Al panas. Tertera 38,8 derajat di termometer digital. "Kok panas banget?" tanya saya dalam hati. Saya pun akhirnya tak jadi berangkat kerja.
Pagi itu, setelah minum Tempra, panas Al sempat turun tapi hanya sebentar saja. Menjelang siang, panas Al kembali naik (38,7). Tak sengaja, saya melihat ada beberapa bintik-bintik di dekat siku Al. Tapi, saya mengira itu hanya bintik-bintik alergi saja. Beberapa jam kemudian, saya melihat ada beberapa bintik di betis dan paha Al. Kecil dan hanya beberapa biji. Menjelang sore, bintik-bintiknya terlihat semakin jelas, mulai banyak dan merah.
Meski telah banyak mendengar dan membaca tentang HFMD, saya sama sekali tak berpikir bahwa Al terkena penyakit itu. Saya malah mengira Al terkena cacar. Saya dan Papa Al memutuskan untuk membawa Al ke klinik malam itu.
Dokter memeriksa cukup seksama. Saya sempat melihat beberapa sariawan saat dokter memeriksa mulut Al. Dokter pun menyatakan Al terkena flu Singapore. Dokter mengatakan, flu ini tidak berbahaya, tidak mematikan, dan akan sembuh dalam waktu lima hari. Ia meresepkan salep Acyclovir, obat penurun panas dan antivirus racikan (puyer!!!).
Dengan berbagai pertimbangan, bisa dilihat di sini dan di sini dan beberapa bacaan lain, saya memutuskan untuk tidak memberikan Al antivirus yang diresepkan dokter. Bukannya mau under treatment, tapi saya hanya ingin rasional dalam memberikan obat kepada anak saya. Bila memang perlu, pastinya akan saya berikan. Tapi bila tak perlu, untuk apa memperberat kerja ginjal bayi dengan obat-obatan? Saya hanya memberikan Al Tempra untuk menurunkan panasnya dan mengoleskan salep Acyclovir.
Malam itu Al rewel sekali. Dia terus-terusan menangis, Tidurnya tak nyenyak. Badannya masih panas. Al tak mau menyentuh makanannya. Yang paling menyedihkan adalah Al menolak untuk menyusu langsung dari saya. Ia hanya mau minum susu dari botol, itupun setelah dibujuk, dan minumya pun sedikit sekali. Tapi, Al terus-terusan minta air putih, padahal biasanya ia tak begitu suka.
Kondisi itu berlanjut hingga keesokan harinya. Bintik atau bentol atau ruam atau apalah namanya semakin banyak. Tapi, yang banyak hanya di bagian kaki (paha, betis dan telapak). Di bagian tangan Al, bintiknya tak terlalu banyak, hanya ada di dekat siku dan telapak.
Hari ketiga, Al sudah tak panas. Bintik-bintiknya sebagian mulai menghitam seperti bekas luka. Al mulai ceria walaupun benar-benar tak mau lepas dari saya. Al masih malas makan dan menolak nenen. Saya juga tak ingin memaksa Al makan karena saya tahu rasanya pasti sakit. Orang dewasa saja bisa kehilangan nafsu makan bila sariawan, apalagi bayi yang sedang memiliki banyak sariawan di mulutnya. Untungnya, Al masih mau makan jeruk (which is mengandung banyak vit C yang mempercepat penyembuhan sariawan), pure apel, yoghurt, dan corn flakes+ASIP.
Hari keempat, bintik-bintik HFMD itu semakin banyak yang menghitam, tapi nafsu makan Al mulai membaik. Saya membuatkannya puding kesukaannya dan nasi daging yang dihabiskan beberapa suap. Hari kelima, Al bisa dikatakan sudah sembuh walaupun kakinya penuh dengan bintik-bintik hitam. Al sudah kembali ceria, aktif, penuh senyum.
HFMD memang menyeramkan dan menyebalkan. Bagi yang memiliki anak sepertinya memang harus waspada. Penyakit ini memang tengah mewabah di Jakarta. Bahkan, di sekolah adik ipar saya, hampir seluruh teman kelasnya terkena penyakit ini dan sudah bisa dipastikan adik ipar saya lah yang menularkannya ke Al. Walaupun sudah sembuh, ternyata HFMD masih bisa menular ke anak lain dua atau tiga minggu setelahnya.
So, untuk mencegah penularan, sebaiknya untuk saat ini hingga wabah HFMD ini mereda, jangan membawa anak-anak ke tempat umum bila tak perlu. Persering cuci tangan, terutama bila baru datang dari luar. Dan yang terpenting, tingkatkan daya tahan tubuh anak dengan memberikan makanan bergizi. Kalaupun akhirnya tertular, tak ada jalan lain, be patient and rational. Insya Allah penyakit ini tak berlangsung lama dan sembuh dengan sendirinya.
13 February 2012
Bayi yang dulu lahir prematur itu sekarang sudah besar. Astagah, he's not a baby anymore, Al almost finish his amazing first year.. Anakku.. Setiap hari ada aja yang bikin takjub.
Saat Si Papa mau berangkat kerja, Al pun merangkak ngikutin dari belakang menuju ruang tamu. Si Papa udah geer setengah melayang "ihh baiknya Al mau nganterin Papa ya..". Ehh, pas Si Papa udah sampai di teras, Al langsung menutup pintu ruang tamu. Hihihi, Al bukannya mau nganterin Papa, tapi mau nutupin pintu.
Suatu sore saat saya baru saja pulang kerja, setelah cuci tangan dan ganti baju, saya pun langsung menggendongnya. Entah kangen atau apa, setiap kali saya berbicara, Al pun langsung mencium saya. Ahhh, so sweet anakku..
Dan kemarin, kata kakakku, Al tiba-tiba mengatakan "ga mau" saat diminta naik ke tempat tidur.. Ahh, saya melewatkan momen itu.. But, i'm happy..
You grow so fast, baby.. Mom selalu menginginkan kamu cepat tumbuh besar. Tapi, terkadang, Mom ingin kamu tetap menjadi bayi seperti sekarang, seperti setahun ini, bayi yang selalu menatapku saat menyusu, bayi yang tersenyum ataupun tertawa setelah kenyang menyusu, bayi yang kupeluk saat tidur, bayi yang minta digendong saat melihatku pulang kerja, bayi yang selalu menguntit Mom saat berada di rumah, bayi yang tak bosan-bosannya Mom ciumin.. I love you so much, my boy.. Indeed..
Saat Si Papa mau berangkat kerja, Al pun merangkak ngikutin dari belakang menuju ruang tamu. Si Papa udah geer setengah melayang "ihh baiknya Al mau nganterin Papa ya..". Ehh, pas Si Papa udah sampai di teras, Al langsung menutup pintu ruang tamu. Hihihi, Al bukannya mau nganterin Papa, tapi mau nutupin pintu.
Suatu sore saat saya baru saja pulang kerja, setelah cuci tangan dan ganti baju, saya pun langsung menggendongnya. Entah kangen atau apa, setiap kali saya berbicara, Al pun langsung mencium saya. Ahhh, so sweet anakku..
Dan kemarin, kata kakakku, Al tiba-tiba mengatakan "ga mau" saat diminta naik ke tempat tidur.. Ahh, saya melewatkan momen itu.. But, i'm happy..
You grow so fast, baby.. Mom selalu menginginkan kamu cepat tumbuh besar. Tapi, terkadang, Mom ingin kamu tetap menjadi bayi seperti sekarang, seperti setahun ini, bayi yang selalu menatapku saat menyusu, bayi yang tersenyum ataupun tertawa setelah kenyang menyusu, bayi yang kupeluk saat tidur, bayi yang minta digendong saat melihatku pulang kerja, bayi yang selalu menguntit Mom saat berada di rumah, bayi yang tak bosan-bosannya Mom ciumin.. I love you so much, my boy.. Indeed..
06 February 2012
Hari Ditraktir Sedunia
Beberapa hari lalu Bapak dinas ke Jakarta. Di sela-sela agendanya yang sibuk, Bapak menyempatkan diri berkunjung ke rumah. Tak lama memang. Bapak ingin menjenguk Al. Sayangnya, waktu Bapak datang Al lagi jutek. Percaya ga percaya, Al ternyata ngambek karena batal dibawa jalan-jalan ke mall. Karena Al terus rewel, akhirnya Bapak mengajak kami ke mall. Dan... Ini hasilnya:
Bapak membelikan kami kasur baru karena kasur yang lama sempat membuat saya cedera punggung selama berminggu-minggu. Sumpah, sebenarnya saya malu sekali menerima pemberian Bapak. Tapi, Bapak terus memaksa.. Hehehe.. Alhamdulillah lah kalo gitu..
Karena Al ga pakai sepatu waktu ke mall (hihihi..emaknya lupa), akhirnya Bapak mengajak untuk mencarikan Al sepatu. Bapak langsung jatuh cinta saat melihat Nike Dunk Low dan langsung meminta mbak penjaga toko memakaikan sepatu itu ke Al.
Al lagi nyobain sepatu barunya..
Keren kan?? Huaaa, harganya lebih mahal dari sepatu saya -__-"
Al dan Kung
Terakhir, setelah capek berbelanja, kami pun makan di Mr. Pancake. Ehh ditraktir lagi.. Maluwwwww..
Makaciii Kung.. We love you so much..
Bapak membelikan kami kasur baru karena kasur yang lama sempat membuat saya cedera punggung selama berminggu-minggu. Sumpah, sebenarnya saya malu sekali menerima pemberian Bapak. Tapi, Bapak terus memaksa.. Hehehe.. Alhamdulillah lah kalo gitu..
Karena Al ga pakai sepatu waktu ke mall (hihihi..emaknya lupa), akhirnya Bapak mengajak untuk mencarikan Al sepatu. Bapak langsung jatuh cinta saat melihat Nike Dunk Low dan langsung meminta mbak penjaga toko memakaikan sepatu itu ke Al.
Al lagi nyobain sepatu barunya..
Keren kan?? Huaaa, harganya lebih mahal dari sepatu saya -__-"
Al dan Kung
Terakhir, setelah capek berbelanja, kami pun makan di Mr. Pancake. Ehh ditraktir lagi.. Maluwwwww..
Makaciii Kung.. We love you so much..
05 February 2012
Al 11 Bulan
Perkembangan Al di usianya yang ke-11 bulan:
- Semakin lincah. Al memang belum bisa berdiri sendiri tanpa pegangan, tapi ia sekarang semakin lancar belajar berjalan dengan mendorong-dorong mainannya sendiri. Pernah sekali Al berdiri lepas pegangan tapi hanya berlangsung beberapa detik.
- Makannya lahap. Al pernah menghabiskan sendiri puding stroberi pear sebanyak satu ice tray ukuran lebar dan dua kotak lagi seukuran 100 ml.. Hihihihi banyak ya.. Setelah sempat sakit dan kehilangan nafsu makan, sekarang makan Al kembali lahap. Tepat berusia sebelas bulan, Al juga resmi makan nasi. Yeayyy!!! Tapi, lauknya masih diblender kasar sih, maklum belum punya gigi hihihi... Saat Al sakit, beratnya 9,8 kg, mudah-mudahan sekarang sudah bertambah lagi..
- Al sudah bisa turun dari tempat tidur sendiri. Takjub. Setelah sekitar 3-4 kali nyungsep ke lantai dari tempat tidur yang cukup tinggi dan kepalanya membentur lantai, saya pun beberapa kali mengajarkan Al cara turun dari tempat tidur. And suddenly, suatu hari saat Al ingin turun dari tempat tidur, ia memutar pantatnya, lalu menurunkan satu kakinya, diikuti dengan satu kaki yang lain, lalu hooopp loncat.. Horeee.. You're doing a great job, baby boy!!! Sekarang Al sudah cukup fasih melakukannya.
- Suka joget-joget. Saya memang suka menggoda Al dengan berjoget-joget di depannya. Tapi, seperti biasa, Al memasang tampang lempeng dan cuek. Tapi, sekarang Al malah ikut-ikutan suka joget. Dengar musik langsung joget. Tangan dan kepalanya digoyang-goyangin. Kemarin saya membawanya ke acara kawinan. Begitu mendengar alunan musik, hihihi Al langsung berjoget-joget. Ketika di tv ada acara musik, ia juga langsung berjoget-joget dengan menghentakkan pantatnya di lantai dan mengoyang-goyang kepalanya.. Hihihihi.. lucu banget..
- Suka bertepuk tangan. Tapi, tanpa ekspresi -__-'
- Al jadi suka nungging-nungging. Nenen sambil nungging segala arah, lagi main tiba-tiba nungging. Sambil nungging pantatnya diangkat tinggi-tingi.. Ngapain sih kamu, nak?? :D
- Semakin cerewet dengan ocehannya yang tak jelas. Ia sempat hobby mengatakan cobocoboco boyo boyo. Sepanjang hari Al terus-menerus berceloteh cobocoboco boyo boyo. Al juga sempat senang mengatakan howeee (maksudnya entah hore atau apalah) dan sekarang Al lagi senang berteriak mimimimimimimi...
Apalagi ya? Yang pasti, Al terus membuat saya takjub dengan perkembangannya.. Ahhh, satu bulan lagi menuju satu tahun.. Satu bulan lagi sebelum Al memasuki dunia 'toddler'.. Sehat terus ya nak.. Thousand kisses from Mom...
- Semakin lincah. Al memang belum bisa berdiri sendiri tanpa pegangan, tapi ia sekarang semakin lancar belajar berjalan dengan mendorong-dorong mainannya sendiri. Pernah sekali Al berdiri lepas pegangan tapi hanya berlangsung beberapa detik.
- Makannya lahap. Al pernah menghabiskan sendiri puding stroberi pear sebanyak satu ice tray ukuran lebar dan dua kotak lagi seukuran 100 ml.. Hihihihi banyak ya.. Setelah sempat sakit dan kehilangan nafsu makan, sekarang makan Al kembali lahap. Tepat berusia sebelas bulan, Al juga resmi makan nasi. Yeayyy!!! Tapi, lauknya masih diblender kasar sih, maklum belum punya gigi hihihi... Saat Al sakit, beratnya 9,8 kg, mudah-mudahan sekarang sudah bertambah lagi..
- Al sudah bisa turun dari tempat tidur sendiri. Takjub. Setelah sekitar 3-4 kali nyungsep ke lantai dari tempat tidur yang cukup tinggi dan kepalanya membentur lantai, saya pun beberapa kali mengajarkan Al cara turun dari tempat tidur. And suddenly, suatu hari saat Al ingin turun dari tempat tidur, ia memutar pantatnya, lalu menurunkan satu kakinya, diikuti dengan satu kaki yang lain, lalu hooopp loncat.. Horeee.. You're doing a great job, baby boy!!! Sekarang Al sudah cukup fasih melakukannya.
- Suka joget-joget. Saya memang suka menggoda Al dengan berjoget-joget di depannya. Tapi, seperti biasa, Al memasang tampang lempeng dan cuek. Tapi, sekarang Al malah ikut-ikutan suka joget. Dengar musik langsung joget. Tangan dan kepalanya digoyang-goyangin. Kemarin saya membawanya ke acara kawinan. Begitu mendengar alunan musik, hihihi Al langsung berjoget-joget. Ketika di tv ada acara musik, ia juga langsung berjoget-joget dengan menghentakkan pantatnya di lantai dan mengoyang-goyang kepalanya.. Hihihihi.. lucu banget..
- Suka bertepuk tangan. Tapi, tanpa ekspresi -__-'
- Al jadi suka nungging-nungging. Nenen sambil nungging segala arah, lagi main tiba-tiba nungging. Sambil nungging pantatnya diangkat tinggi-tingi.. Ngapain sih kamu, nak?? :D
- Semakin cerewet dengan ocehannya yang tak jelas. Ia sempat hobby mengatakan cobocoboco boyo boyo. Sepanjang hari Al terus-menerus berceloteh cobocoboco boyo boyo. Al juga sempat senang mengatakan howeee (maksudnya entah hore atau apalah) dan sekarang Al lagi senang berteriak mimimimimimimi...
Apalagi ya? Yang pasti, Al terus membuat saya takjub dengan perkembangannya.. Ahhh, satu bulan lagi menuju satu tahun.. Satu bulan lagi sebelum Al memasuki dunia 'toddler'.. Sehat terus ya nak.. Thousand kisses from Mom...
31 January 2012
Sunshine After The Rain
Minggu lalu adalah pekan yang sangat mengkhawatirkan. Al sakit! Al panas selama 5 hari, bahkan sempat mencapai 39,7 derajat celcius. Tempra tak mempan. Panasnya sempat turun sedikit, kemudian naik lagi. Panik. Saya sungguh khawatir Al terkena demam berdarah, penyakit yang kerap menyerang di musim penghujan.
Tiga hari pertama, saya langsung membawa Al ke sebuah rumah sakit di Cilandak. Untuk pertama kalinya saya membawa Al ke RS tersebut karena mempertimbangkan lokasinya yang berdekatan dengan rumah. Saya tak berani membawa Al jauh-jauh karena badannya saat ini masih panas. Dokter pun langsung menyarankan untuk tes lab.
Alhamdulillah, hasil tes trombosit, leukosit masih normal, sementara berbagai jenis salmonella negatif. Hanya saja, hemoglobin Al ternyata rendah. Tanpa pemeriksaan lebih lanjut, dokter langsung memvonis Al terkena anemia. Dokter juga memastikan saya terkena anemia karena menurutnya muka saya pucat, begitu pula bagian dalam mata terlihat putih. Dokter meresepkan antibiotik dan suplemen zat besi untuk Al. Ia juga meminta saya mengonsumsi suplemen penambah darah.
Yang membuat saya kaget, heran, dan sebal adalah saat dokter menyarankan Al untuk diberikan susu formula. Ia dengan yakin menyuruh saya memberikan susu S-26 kepada Al. Menurutnya, ASI saja tidak cukup untuk anak di atas usia enam bulan, sehingga perlu diberikan susu tambahan.
Soal anemia pada bayi memang saya tidak memiliki pengetahuan tentang itu, tapi soal ASI dan susu formula, eiiittss tunggu dulu... Saya tidak membantah saat dokter mengatakan itu, tapi saya dan suami dengan mantap mengabaikan sarannya. Kami yakin, Al tidak perlu tambahan susu formula. Saya sepakat bahwa ASI saja tidak cukup untuk bayi di atas enam bulan. Itulah mengapa bayi perlu diberikan makanan tambahan untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Jadi, berikan saja makanan yang padat gizi, bukan tambahan susu formula! Huhh!
Keesokan harinya, Al masih panas. Saya mulai ragu dengan diagnosa dokter. Masa sih anemia menyebabkab panas berhari-hari? Saya pun memutuskan untuk membawa Al ke dokter lain di sebuah klinik, apalagi setelah melihat timbul merah-merah di dada, leher dan wajah Al. Seperti alergi, tapi jumlahnya lumayan banyak. Al pun seharian itu tak berhenti menangis. Ia lemas dan rewel sekali. Pasti badannya benar-benar terasa tak enak. Huhuhu.
Tak seperti dokter yang pertama, dokter yang kedua ini memeriksa Al dengan sangat seksama. Ia mengatakan Al terkena virus RNA. Apa itu? katanya sih gejalanya mirip campak, namun jauh lebih ringan. "Apa sembuhnya lama, dok?" tanyaku khawatir. "Ahh, besok juga sembuh," katanya ringan. Huaaa, lega selega-leganya. Menurutnya, virus RNA itu bisa berasa dari virus flu, bisa juga dari binatang berbulu ataupun karpet. Dokter ini pun dengan yakin mengatakan bahwa diagnosa yang menyatakan Al terkena anemia keliru! Menurutnya, Al tidak memiliki tanda-tanda anemia. Ia bahkan menantang untuk melakukan tes lab ulang. Huaaaa, tambah lega lagi.
Untuk mengobati virus RNA, dokter memberikan resep antivirus. Awalnya ia meresepkan dalam bentuk puyer tapi saya meminta untuk dibuatkan sirup saja. Ga masalah, katanya. Dan saya juga baru tahu, obat sirup lebih mahal bila diberi rasa stroberi ketimbang jeruk. Hihihi, beda Rp6.000.
Saya juga bertanya ke dokter soal gigi Al yang belum juga tumbuh di usia 11 bulan. Ia dengan tenang mengatakan "Sebentar lagi tumbuh kok." Happy Happy Happy. Dokter meresepkan Calcivit, mengandung kalsium dan multivitamin. Leganya saya.
Benar saja, keesokan harinya, kondisi Al benar-benar membaik. Setidaknya, ia udah kembali sibuk bermain dan tidak rewel. Al pun kembali bernafsu makan, padahal selama sakit, Al tak minat dengan makanan apapun. Tiga hari setelah itu, Al benar-benar sembuh. Merah-merahnya pun hilang. Alhamdulillah. Mudah-mudahan Al sehat terus, semakin besar, semakin aktif, semakin pintar, cepat jalan, pinter ngomong dan giginya segera tumbuh. Aaminn.
Tiga hari pertama, saya langsung membawa Al ke sebuah rumah sakit di Cilandak. Untuk pertama kalinya saya membawa Al ke RS tersebut karena mempertimbangkan lokasinya yang berdekatan dengan rumah. Saya tak berani membawa Al jauh-jauh karena badannya saat ini masih panas. Dokter pun langsung menyarankan untuk tes lab.
Alhamdulillah, hasil tes trombosit, leukosit masih normal, sementara berbagai jenis salmonella negatif. Hanya saja, hemoglobin Al ternyata rendah. Tanpa pemeriksaan lebih lanjut, dokter langsung memvonis Al terkena anemia. Dokter juga memastikan saya terkena anemia karena menurutnya muka saya pucat, begitu pula bagian dalam mata terlihat putih. Dokter meresepkan antibiotik dan suplemen zat besi untuk Al. Ia juga meminta saya mengonsumsi suplemen penambah darah.
Yang membuat saya kaget, heran, dan sebal adalah saat dokter menyarankan Al untuk diberikan susu formula. Ia dengan yakin menyuruh saya memberikan susu S-26 kepada Al. Menurutnya, ASI saja tidak cukup untuk anak di atas usia enam bulan, sehingga perlu diberikan susu tambahan.
Soal anemia pada bayi memang saya tidak memiliki pengetahuan tentang itu, tapi soal ASI dan susu formula, eiiittss tunggu dulu... Saya tidak membantah saat dokter mengatakan itu, tapi saya dan suami dengan mantap mengabaikan sarannya. Kami yakin, Al tidak perlu tambahan susu formula. Saya sepakat bahwa ASI saja tidak cukup untuk bayi di atas enam bulan. Itulah mengapa bayi perlu diberikan makanan tambahan untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Jadi, berikan saja makanan yang padat gizi, bukan tambahan susu formula! Huhh!
Keesokan harinya, Al masih panas. Saya mulai ragu dengan diagnosa dokter. Masa sih anemia menyebabkab panas berhari-hari? Saya pun memutuskan untuk membawa Al ke dokter lain di sebuah klinik, apalagi setelah melihat timbul merah-merah di dada, leher dan wajah Al. Seperti alergi, tapi jumlahnya lumayan banyak. Al pun seharian itu tak berhenti menangis. Ia lemas dan rewel sekali. Pasti badannya benar-benar terasa tak enak. Huhuhu.
Tak seperti dokter yang pertama, dokter yang kedua ini memeriksa Al dengan sangat seksama. Ia mengatakan Al terkena virus RNA. Apa itu? katanya sih gejalanya mirip campak, namun jauh lebih ringan. "Apa sembuhnya lama, dok?" tanyaku khawatir. "Ahh, besok juga sembuh," katanya ringan. Huaaa, lega selega-leganya. Menurutnya, virus RNA itu bisa berasa dari virus flu, bisa juga dari binatang berbulu ataupun karpet. Dokter ini pun dengan yakin mengatakan bahwa diagnosa yang menyatakan Al terkena anemia keliru! Menurutnya, Al tidak memiliki tanda-tanda anemia. Ia bahkan menantang untuk melakukan tes lab ulang. Huaaaa, tambah lega lagi.
Untuk mengobati virus RNA, dokter memberikan resep antivirus. Awalnya ia meresepkan dalam bentuk puyer tapi saya meminta untuk dibuatkan sirup saja. Ga masalah, katanya. Dan saya juga baru tahu, obat sirup lebih mahal bila diberi rasa stroberi ketimbang jeruk. Hihihi, beda Rp6.000.
Saya juga bertanya ke dokter soal gigi Al yang belum juga tumbuh di usia 11 bulan. Ia dengan tenang mengatakan "Sebentar lagi tumbuh kok." Happy Happy Happy. Dokter meresepkan Calcivit, mengandung kalsium dan multivitamin. Leganya saya.
Benar saja, keesokan harinya, kondisi Al benar-benar membaik. Setidaknya, ia udah kembali sibuk bermain dan tidak rewel. Al pun kembali bernafsu makan, padahal selama sakit, Al tak minat dengan makanan apapun. Tiga hari setelah itu, Al benar-benar sembuh. Merah-merahnya pun hilang. Alhamdulillah. Mudah-mudahan Al sehat terus, semakin besar, semakin aktif, semakin pintar, cepat jalan, pinter ngomong dan giginya segera tumbuh. Aaminn.
19 January 2012
Alair...Gigimu Mana???
Kurang dari dua pekan lagi Al berusia 11 bulan. Alhamdulillah, ia tumbuh sehat, ceria, lincah dan aktif. Tapi......Kok giginya belum tumbuh??? Alair...Gigimu mana, nak??? Kenapa belum nongol-nongol juga? Hihihi.. Khawatirkah saya? ohhh tentu tidak! Bagaimanapun, cepat atau lambat, gigi kan pasti tumbuh. Ya kan? Ya kan? Selama Al makannya masih lahap, selama dia tidak rewel, selama dia sehat saja, kenapa saya harus khawatir?? Saya sekarang masih menikmati menyenangkannya menyusui (tanpa digigit :D), masa-masa NO GTM, saya menikmati setiap detik kebersamaanku dengannya. So, take your time nak.. Mom selalu menunggu perkembanganmu dengan sabar. Be a good boy.. -Love Mom-
08 January 2012
Tips Membawa Bayi Naik Pesawat
Bagi yang ingin membawa bayinya naik pesawat, here are some tips based on my experience:
1. Sebelum keberangkatan bayi harus dalam kondisi fit dan cukup istirahat.
2. Selalu jaga mood si baby. Kalau Al sih yang penting dia kenyang, pasti moodnya bagus.
3. Sediakan makanan dan cemilan, sekalian juga cadangannya sekedar berjaga-jaga bila keberangkatan pesawat delay.
4. Usahakan si baby pup dulu sebelum berangkat atau naik pesawat. Kalau pup di pesawat pasti rempong mengganti diapernya.
5. Kenakan baju yang nyaman, jaket dan kaos kaki karena udara di pesawat cukup dingin.
6. Susui bayi saat pesawat akan take off dan landing untuk mengurangi sakit di kuping akibat perubahan tekanan udara.
7. Saat check-in, minta petugas memberikan tempat duduk nomor genap. Hanya tempat duduk nomor genap yang dilengkapi dengan masker oksigen ganda untuk si ibu dan anaknya.
1. Sebelum keberangkatan bayi harus dalam kondisi fit dan cukup istirahat.
2. Selalu jaga mood si baby. Kalau Al sih yang penting dia kenyang, pasti moodnya bagus.
3. Sediakan makanan dan cemilan, sekalian juga cadangannya sekedar berjaga-jaga bila keberangkatan pesawat delay.
4. Usahakan si baby pup dulu sebelum berangkat atau naik pesawat. Kalau pup di pesawat pasti rempong mengganti diapernya.
5. Kenakan baju yang nyaman, jaket dan kaos kaki karena udara di pesawat cukup dingin.
6. Susui bayi saat pesawat akan take off dan landing untuk mengurangi sakit di kuping akibat perubahan tekanan udara.
7. Saat check-in, minta petugas memberikan tempat duduk nomor genap. Hanya tempat duduk nomor genap yang dilengkapi dengan masker oksigen ganda untuk si ibu dan anaknya.
Yeayy, Al Naik Pesawat...
Pengalaman pertama Al naik pesawat sebenarnya over my expectations. Dulu, saat saya belum menikah dan punya anak, saya beberapa kali mengalami naik pesawat disertai dengan suara bayi yang tidak berhenti menangis sepanjang perjalanan. Tak heran bila saya cukup was-was saat memutuskan untuk membawa Al naik pesawat untuk pertama kalinya.
Ternyata oh ternyata, pengalaman pertama membawa Al naik pesawat sangat menyenangkan. Saya sendiri tidak menyangka Al bisa sangat koperatif selama perjalanan. Baik saat naik DAMRI menuju bandara, di boarding room hingga dalam perjalanan di pesawat, Al selalu bersikap manis. Yeahh, satu-satunya yang aneh, Al tidak henti-hentinya meminta cemilan dan makanan hihihihi.. A very great experience for us.
Pesawat yang akan kami tumpangi sempat delay selama hampir dua jam. Sembari menunggu di boarding room, Al menghabiskan sarapannya yang telah saya siapkan. Al juga sempat pup. Setelah lelah bermain di boarding room, Al pun pulas tidur ketika kami naik pesawat. Al terbangun sebelum pesawat take off. Saya pun langsung menyusuinya.
Selama perjalanan, sejumlah bayi dan balita di pesawat terlihat rewel dan menangis. Perubahan tekanan udara di dalam pesawat memang terasa menyakitkan di telinga. Untungnya, Al sama sekali tidak rewel. Ia terus mengoceh, mengunyah cemilannya, bermain bersama anak berusia 10 tahun yang duduk di kursi belakang kami, bahkan senyum-senyum sendiri saat pramugari berkali-kali datang menggodanya hihihihi..
Saat ketinggian pesawat terasa mulai menurun dan efek sakit di telinga kembali terasa, saya pun menyusui Al lagi. Alhamdulillah, Al langsung tertidur pulas. Al sama sekali tak terbangun ketika pesawat mendarat. Ia baru terbangun saat kami menunggu pengambilan bagasi. Sukses!
Sementara perjalanan pulang Makassar-Jakarta, Al pup tepat saat penumpang dipanggil masuk ke dalam pesawat. Kami pun buru-buru mengganti diapernya. Ketika kami sudah berada di dalam pesawat, Al mulai mengeksplor majalah dan kertas-kertas yang ada di kursi. Namun, sesaat sebelum pesawat take off, Al minta nenen, lalu tertidur pulas. Al tidur nyenyak selama dua jam. Padahal, hampir sepanjang perjalanan, cuaca buruk melanda dan pesawat kerap bergoyang cukup kencang. Proses pendaratan pun terasa kasar dan menakutkan. Namun, Al baru terbangun saat pesawat baru benar-benar telah mendarat di landasan. Alhamdulillah.
Menyenangkan sekali kamu nak...Thanks for being so cooperative during our travelling. Lain kali kita jalan-jalan lagi yaaaa.. :))
Ternyata oh ternyata, pengalaman pertama membawa Al naik pesawat sangat menyenangkan. Saya sendiri tidak menyangka Al bisa sangat koperatif selama perjalanan. Baik saat naik DAMRI menuju bandara, di boarding room hingga dalam perjalanan di pesawat, Al selalu bersikap manis. Yeahh, satu-satunya yang aneh, Al tidak henti-hentinya meminta cemilan dan makanan hihihihi.. A very great experience for us.
Pesawat yang akan kami tumpangi sempat delay selama hampir dua jam. Sembari menunggu di boarding room, Al menghabiskan sarapannya yang telah saya siapkan. Al juga sempat pup. Setelah lelah bermain di boarding room, Al pun pulas tidur ketika kami naik pesawat. Al terbangun sebelum pesawat take off. Saya pun langsung menyusuinya.
Selama perjalanan, sejumlah bayi dan balita di pesawat terlihat rewel dan menangis. Perubahan tekanan udara di dalam pesawat memang terasa menyakitkan di telinga. Untungnya, Al sama sekali tidak rewel. Ia terus mengoceh, mengunyah cemilannya, bermain bersama anak berusia 10 tahun yang duduk di kursi belakang kami, bahkan senyum-senyum sendiri saat pramugari berkali-kali datang menggodanya hihihihi..
Saat ketinggian pesawat terasa mulai menurun dan efek sakit di telinga kembali terasa, saya pun menyusui Al lagi. Alhamdulillah, Al langsung tertidur pulas. Al sama sekali tak terbangun ketika pesawat mendarat. Ia baru terbangun saat kami menunggu pengambilan bagasi. Sukses!
Sementara perjalanan pulang Makassar-Jakarta, Al pup tepat saat penumpang dipanggil masuk ke dalam pesawat. Kami pun buru-buru mengganti diapernya. Ketika kami sudah berada di dalam pesawat, Al mulai mengeksplor majalah dan kertas-kertas yang ada di kursi. Namun, sesaat sebelum pesawat take off, Al minta nenen, lalu tertidur pulas. Al tidur nyenyak selama dua jam. Padahal, hampir sepanjang perjalanan, cuaca buruk melanda dan pesawat kerap bergoyang cukup kencang. Proses pendaratan pun terasa kasar dan menakutkan. Namun, Al baru terbangun saat pesawat baru benar-benar telah mendarat di landasan. Alhamdulillah.
Menyenangkan sekali kamu nak...Thanks for being so cooperative during our travelling. Lain kali kita jalan-jalan lagi yaaaa.. :))
22 December 2011
Merangkak
Walaupun sebenarnya sedikit terlambat dibandingkan anak-anak lainnya, tapi saya dengan bangga bilang bahwa anakku sekarang sudah bisa merangkak. Horeeeee.....!!!! Banyak yang bilang bahwa tak apa bila bayi melewati fase merangkak, toh nantinya dia akan berjalan, bukan merangkak. Saya sendiri sempat pasrah bila Al melewati fase merangkak. Dia sekarang memang lagi senang-senangnya belajar berdiri sendiri. Tapi, ketika dia tiba-tiba bisa merangkak, surprise..! You're doing great job, baby boy..! I'm just a happy Mom.. Konon katanya, merangkak akan menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan anak. Walaupun Al baru bisa merangkak di usia 9,5 bulan, it's okay.. Take your time, explore and enjoy it, Son.. Loveeee -Mom-
20 December 2011
Since become a Mom
Walaupun baru sembilan bulan lebih menyandang predikat Mom, but since that, hidup memang ga pernah sama lagi. These are some of the differences:
1. Mandi dan keramas dengan santai adalah suatu kemewahan. Ke salon, luluran, creambath, manicure & pedicure adalah suatu kemustahilan :D
2. Walaupun berat badan udah kembali seperti semula (naik 16 kg selama hamil), namun perut tak bisa diajak berbohong..Hihihi..tetep aja ada gelambirnya.
3. Dulu sebelum punya anak, segala sesuatu bisa dilakukan dengan spontan, sekarang: GA! Segala sesuatu harus prepare. Kalau mo pergi, harus bener-bener lihat cuaca dulu, pikir-pikir panjang nyaman atau ga tempatnya, ada nursing room atau ga, endebreh endebreh.
4. Big bag is a must! Pergi kemana pun, walaupun dekat, walaupun cuma sebentar, tetap aja bawaannya banyak!
5. Pup jadi ga menjijikkan lagi. Acara makan disela dengan membersihkan pup, terus lanjut makan lagi, biasa aja.. :D
6. Tidur tak pernah lagi senikmat dulu. Selamat datang kantong mata :D
7. Profile picture Facebook, display picture bbm, wallpaper laptop semuanya foto anak. Jadi jarang punya foto sendiri. Folder picture handphone isinya foto anak semua.
8. Menggendong bayi 9 kg selama berjam-jam, ahhh gampang... Makanya, bawa anak harus sekalian bawa suami juga, biar bisa gantian gendong :D
9. Ga minat pergi sendirian lama-lama. Uhhh, mendingan cepat pulang ke rumah, main sama si bocil.. Lagian stok ASIPnya juga pas-pasan booo..
10. Quality time sama suami cuma bisa tengah malem.. ssstttt..hehehehe..tau kan??
Hey, what about you after become a mom??? :D
1. Mandi dan keramas dengan santai adalah suatu kemewahan. Ke salon, luluran, creambath, manicure & pedicure adalah suatu kemustahilan :D
2. Walaupun berat badan udah kembali seperti semula (naik 16 kg selama hamil), namun perut tak bisa diajak berbohong..Hihihi..tetep aja ada gelambirnya.
3. Dulu sebelum punya anak, segala sesuatu bisa dilakukan dengan spontan, sekarang: GA! Segala sesuatu harus prepare. Kalau mo pergi, harus bener-bener lihat cuaca dulu, pikir-pikir panjang nyaman atau ga tempatnya, ada nursing room atau ga, endebreh endebreh.
4. Big bag is a must! Pergi kemana pun, walaupun dekat, walaupun cuma sebentar, tetap aja bawaannya banyak!
5. Pup jadi ga menjijikkan lagi. Acara makan disela dengan membersihkan pup, terus lanjut makan lagi, biasa aja.. :D
6. Tidur tak pernah lagi senikmat dulu. Selamat datang kantong mata :D
7. Profile picture Facebook, display picture bbm, wallpaper laptop semuanya foto anak. Jadi jarang punya foto sendiri. Folder picture handphone isinya foto anak semua.
8. Menggendong bayi 9 kg selama berjam-jam, ahhh gampang... Makanya, bawa anak harus sekalian bawa suami juga, biar bisa gantian gendong :D
9. Ga minat pergi sendirian lama-lama. Uhhh, mendingan cepat pulang ke rumah, main sama si bocil.. Lagian stok ASIPnya juga pas-pasan booo..
10. Quality time sama suami cuma bisa tengah malem.. ssstttt..hehehehe..tau kan??
Hey, what about you after become a mom??? :D
01 December 2011
Masak Apa Hari Ini? #1
Happy December, everyone..!!!
Hihihi..Dasar emak-emak ga kreatif, hari ini saya menyiapkan makan pagi, siang, dan sore yang sama buat Al. Untuk makanan Al hari ini, saya sudah menyiapkan bubur yang dimasak dengan sedikit unsalted butter Lurpak di slow cooker semalam dan subuh tadi sudah matang.
Untuk lauknya, saya membuat daging, terong, zuchini, tomat, keju dan duo bawang yang ditumis dengan unsalted butter, sedikit ELOO. Karena Al sekarang sudah bisa memakan makanan yang bertekstur, jadi buburnya tidak perlu lagi diblender. Sementara, dagingnya cukup dicincang tipis dan sayurannya diparut. Hmmmm, it smells yummmy sih. Untuk cemilan Al, saya sudah menyiapkan puding oatmeal apel dan pure pear singo.
Sementara untuk saya dan suami, hehehehe.. makan di luar aja yah.. Tadi pagi kami berdua sarapan soto bersama, untuk siang pastinya saya mengandalkan Bu Brindil atau Bu Bagyo di kantin kantor, untuk makan malam, yaaaa liat aja nanti... :))
Hihihi..Dasar emak-emak ga kreatif, hari ini saya menyiapkan makan pagi, siang, dan sore yang sama buat Al. Untuk makanan Al hari ini, saya sudah menyiapkan bubur yang dimasak dengan sedikit unsalted butter Lurpak di slow cooker semalam dan subuh tadi sudah matang.
Untuk lauknya, saya membuat daging, terong, zuchini, tomat, keju dan duo bawang yang ditumis dengan unsalted butter, sedikit ELOO. Karena Al sekarang sudah bisa memakan makanan yang bertekstur, jadi buburnya tidak perlu lagi diblender. Sementara, dagingnya cukup dicincang tipis dan sayurannya diparut. Hmmmm, it smells yummmy sih. Untuk cemilan Al, saya sudah menyiapkan puding oatmeal apel dan pure pear singo.
Sementara untuk saya dan suami, hehehehe.. makan di luar aja yah.. Tadi pagi kami berdua sarapan soto bersama, untuk siang pastinya saya mengandalkan Bu Brindil atau Bu Bagyo di kantin kantor, untuk makan malam, yaaaa liat aja nanti... :))
30 November 2011
Lulus ASIX dan Rentan Sakit
Ada satu hal yang paling menakutkan saya sejak Al lulus ASI Ekslusif. Rentan sakit. Mengantar Al untuk memulai makanan padat pertamanya tiga bulan lalu, membuat perasaan saya campur aduk, antara senang, penasaran, deg-degan dan khawatir. Saya sungguh khawatir Al menjadi rentan sakit.
Selama masa ASI Ekslusif, saya bisa sangat percaya diri, apapun yang Al alami, obatnya cuma satu, ASI. Sewaktu badannya hangat setelah imunisasi, cukup dengan memberikannya ASI dengan intensitas yang lebih sering dan temperatur tubuhnya pun menurun dengan sendirinya. Ketika Al lagi rewel, saya juga hanya perlu terus memberikannya ASI untuk memberikannya rasa tenang dan nyaman. Dia pun bisa tertidur dengan pulas.
Tapi, ketika masa ASI Ekslusif itu berakhir, Al mulai makan, kepercayaan diri saya pun meluntur. Banyak orang mengatakan, ketika bayi sudah mulai makan, dengan sendirinya ia akan rentan sakit. Makanan memang bisa jadi teman baik, tapi bisa menjadi musuh besar. Apalagi Al sedang dalam fase memasukkan segala benda ke mulutnya.
Dan benar saja. Al mengalami sakit perdana di usia delapan bulan. Al diare selama tiga hari setelah memakan mangga gedong. Ia tampak lemas, badannya panas, Al yang biasanya berisik ngoceh pun menjadi pendiam.
Dengan sangat berat hati dan atas saran dokter, saya terpaksa memberikannya obat penurun panas dan antibiotik. Saya sempat bertahan untuk tidak memberikan antibiotik, tapi diarenya tak kunjung berhenti dan panasnya juga tak turun. Al tak berhenti menyusu. Saya pun terpaksa bolos dari kantor selama tiga hari.
Untung, sakit Al tidak berlangsung lebih lama. Di hari ketiga, frekuensi pup Al mulai berkurang dan lebih padat. Namun, sejak sakit itu hingga sekarang, nafsu makan Al berkurang drastis. Al tak pernah lagi menghabiskan semangkok penuh makanannya dalam waktu 10 menit saja. Sekarang, bisa memasukkan lima suap saja ke mulutnya, saya sudah sangat bersyukur. Badan Al yang sebelumnya terlihat padat berisi, kini tampak singset. Tidak hanya soal makan, ocehan Al pun tidak seberisik sebulan yang lalu.
Beberapa hari lalu, jelang Al berusia sembilan bulan, badan Al kembali hangat. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tapi, hari itu Al sempat memakan pure dalam kondisi dingin dari kulkas. Untungnya lagi, hangatnya Al cuma berlangsung semalam. Sepanjang malam pun, Al berkali-kali bangun untuk menyusu. Saya terpaksa menunda jadwal imunisasi campak Al hingga minggu depan agar Al benar-benar dalam kondisi fit.
Ahhh, saya merindu masa Al 'kebal' sakit, saya merindu masa Al tak pernah menolak saat disodorkan makanan, saya rindu masa Al mendapatkan proteksi penuh dari ASI saja, saya merindu masa ketika berat badan Al bisa tambah sekilo lebih hanya dengan ASI. Ahh, ASI.. I love you full.. Be nice to me hingga Al berusia setidaknya dua tahun yaa.. :))
Selama masa ASI Ekslusif, saya bisa sangat percaya diri, apapun yang Al alami, obatnya cuma satu, ASI. Sewaktu badannya hangat setelah imunisasi, cukup dengan memberikannya ASI dengan intensitas yang lebih sering dan temperatur tubuhnya pun menurun dengan sendirinya. Ketika Al lagi rewel, saya juga hanya perlu terus memberikannya ASI untuk memberikannya rasa tenang dan nyaman. Dia pun bisa tertidur dengan pulas.
Tapi, ketika masa ASI Ekslusif itu berakhir, Al mulai makan, kepercayaan diri saya pun meluntur. Banyak orang mengatakan, ketika bayi sudah mulai makan, dengan sendirinya ia akan rentan sakit. Makanan memang bisa jadi teman baik, tapi bisa menjadi musuh besar. Apalagi Al sedang dalam fase memasukkan segala benda ke mulutnya.
Dan benar saja. Al mengalami sakit perdana di usia delapan bulan. Al diare selama tiga hari setelah memakan mangga gedong. Ia tampak lemas, badannya panas, Al yang biasanya berisik ngoceh pun menjadi pendiam.
Dengan sangat berat hati dan atas saran dokter, saya terpaksa memberikannya obat penurun panas dan antibiotik. Saya sempat bertahan untuk tidak memberikan antibiotik, tapi diarenya tak kunjung berhenti dan panasnya juga tak turun. Al tak berhenti menyusu. Saya pun terpaksa bolos dari kantor selama tiga hari.
Untung, sakit Al tidak berlangsung lebih lama. Di hari ketiga, frekuensi pup Al mulai berkurang dan lebih padat. Namun, sejak sakit itu hingga sekarang, nafsu makan Al berkurang drastis. Al tak pernah lagi menghabiskan semangkok penuh makanannya dalam waktu 10 menit saja. Sekarang, bisa memasukkan lima suap saja ke mulutnya, saya sudah sangat bersyukur. Badan Al yang sebelumnya terlihat padat berisi, kini tampak singset. Tidak hanya soal makan, ocehan Al pun tidak seberisik sebulan yang lalu.
Beberapa hari lalu, jelang Al berusia sembilan bulan, badan Al kembali hangat. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tapi, hari itu Al sempat memakan pure dalam kondisi dingin dari kulkas. Untungnya lagi, hangatnya Al cuma berlangsung semalam. Sepanjang malam pun, Al berkali-kali bangun untuk menyusu. Saya terpaksa menunda jadwal imunisasi campak Al hingga minggu depan agar Al benar-benar dalam kondisi fit.
Ahhh, saya merindu masa Al 'kebal' sakit, saya merindu masa Al tak pernah menolak saat disodorkan makanan, saya rindu masa Al mendapatkan proteksi penuh dari ASI saja, saya merindu masa ketika berat badan Al bisa tambah sekilo lebih hanya dengan ASI. Ahh, ASI.. I love you full.. Be nice to me hingga Al berusia setidaknya dua tahun yaa.. :))
Subscribe to:
Posts (Atom)




















