Beberapa minggu lalu, saya membantu istri seorang teman di sebuah proyek iklan layanan masyarakat. Istri teman saya tersebut seorang fashion stylist dan dia meminta bantuan saya untuk merias talent yang ikut di iklan tersebut. Saya langsung mengiyakan tanpa tahu siapa yang saya make up. Pikir saya, ini kan iklan layanan masyarakat, konsep make up-nya sederhana dan paling hanya beberapa jam saja. Fee-nya pun not bad at all.
Istri temen saya tersebut mengiming-imingi dengan mantra sakti “Kan abis itu bisa belanja di H n M.” Yes, I’m sold!!! Sini..sini..siapa sih yang perlu dirias? D*mn, ternyata ada enam orang yang harus dirias dan beberapa di antaranya ada sosok yang sering saya lihat di tv.
Ada seorang pakar ekonomi cantik, ada presenter yang juga anggota Trio L*bels, ada seorang model sebuah produk dan klinik kecantikan ternama, seorang pakar transportasi, seorang talent yang saat itu memerankan sosok ibu rumah tangga, dan seorang lagi yang berperan sebagai sopir taksi. Jadi, iklan layanan masyarakat tersebut untuk mensosialisasikan manfaat konversi BBM ke BBG.
Saya standby di studio Gaharu, Cipete sejak pukul 07.30 dan langsung menuju ruang make up. Saya mulai merias sejam kemudian. Deg-degan? Iya, jelas! Ini pengalaman pertama saya merias secara profesional. Sebelumnya hanya untuk iseng-iseng atau sekedar membantu prewedding teman.
Hal yang menurut saya paling akwkward adalah ternyata laki-laki bisa lebih rewel soal dandanan dibanding perempuan, dan mereka lebih banyak menghabiskan foundation. Hahaha. Saya sama sekali tidak menyangka ketika anggota Trio L*bels itu meminta saya untuk memberi shading pada pipi, hidung, membentuk alisnya dan dia membawa bedaknya sendiri! *Ngikik*
Alhamdulillah, semua berjalan cukup lancar. Capek memang karena sepanjang waktu harus standby untuk touch up. Sayangnya, saya lupa memotret sebagian “hasil karya” saya. Padahal lumayan juga buat portfolio. Saya baru pulang sekitar pukul 17.00 sore dan senangnya karena langsung menerima fee. Besoknya saya harus memanggil tukang urut ke rumah karena seluruh badan terasa pegal. Hahaha. Walaupun capek, tapi sepertinya seru juga jika saya menjadikan ini sebagai pekerjaan sampingan. Hobi yang mendatangkan uang. *Lalu kemudian belanja ke H n M* ;)
Showing posts with label Personal Moment. Show all posts
Showing posts with label Personal Moment. Show all posts
07 November 2013
08 January 2012
Resolusi 26
Yeayyy, this is January, this is my month.
Yup, 25 tahun hidupku sudah terlewati dan sekarang saya menyambut angka 26. Yang terbaik dari angka 25, yakni kelahiran Alair Altaf Irfandi. Al dan kebahagian setelah memilikinya adalah hadiah terbak dari Tuhan di usia saya yang ke-25.
Kehidupan pernikahan pun berjalan mulus. Tidak seperti bulan-bulan pertama pernikahan yang penuh drama, kami sekarang sudah lebih saling mengerti. Kami menjadi satu tim yang kompak. Kami berusaha membesarkan dan mendidik Al sebaik mungkin.
Tapi, ada beberapa hal lain yang masih menjadi PR besar bagi saya:
- Tertib dan tepat waktu menjalankan sholat 5 waktu, membiasakan sholat dhuha, tahajjud dan membaca Al-Quran. Ini harus menjadi prioritas terpenting saya.
- Berusaha lebih sabar dan tidak gampang terbawa emosi dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Sebenarnya ini sulit sekali. But, give me a chance..
- Meluangkan lebih banyak waktu untuk memasak dan makan bersama suami. Errrr, ini juga sulit sekali saya lakukan sejak hampir setahun ini.
- Stop berbelanja hal-hal yang tidak perlu atau bahkan tidak akan saya pakai setelahnya. Yaaaa, i know, harus belajar hemat dan menabung.
- Lebih membuka diri ke keluarga besar. Bergaul lady.. bergaul.. :D
- Meluangkan waktu untuk membaca buku. Orang yang malas membaca pastinya memiliki dunia yang sempit. Saya memilik akses luas ke internet, but books always be more special..
- Gained weight! Yup, saya sekarang menjadi sangat kurus. Saya butuh menambah berat badan sekitar 5-7 kg lagi.
Haiii 26, be nice to me along this year yaaahhh.. :))
Yup, 25 tahun hidupku sudah terlewati dan sekarang saya menyambut angka 26. Yang terbaik dari angka 25, yakni kelahiran Alair Altaf Irfandi. Al dan kebahagian setelah memilikinya adalah hadiah terbak dari Tuhan di usia saya yang ke-25.
Kehidupan pernikahan pun berjalan mulus. Tidak seperti bulan-bulan pertama pernikahan yang penuh drama, kami sekarang sudah lebih saling mengerti. Kami menjadi satu tim yang kompak. Kami berusaha membesarkan dan mendidik Al sebaik mungkin.
Tapi, ada beberapa hal lain yang masih menjadi PR besar bagi saya:
- Tertib dan tepat waktu menjalankan sholat 5 waktu, membiasakan sholat dhuha, tahajjud dan membaca Al-Quran. Ini harus menjadi prioritas terpenting saya.
- Berusaha lebih sabar dan tidak gampang terbawa emosi dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Sebenarnya ini sulit sekali. But, give me a chance..
- Meluangkan lebih banyak waktu untuk memasak dan makan bersama suami. Errrr, ini juga sulit sekali saya lakukan sejak hampir setahun ini.
- Stop berbelanja hal-hal yang tidak perlu atau bahkan tidak akan saya pakai setelahnya. Yaaaa, i know, harus belajar hemat dan menabung.
- Lebih membuka diri ke keluarga besar. Bergaul lady.. bergaul.. :D
- Meluangkan waktu untuk membaca buku. Orang yang malas membaca pastinya memiliki dunia yang sempit. Saya memilik akses luas ke internet, but books always be more special..
- Gained weight! Yup, saya sekarang menjadi sangat kurus. Saya butuh menambah berat badan sekitar 5-7 kg lagi.
Haiii 26, be nice to me along this year yaaahhh.. :))
05 October 2010
Last Single Girl Day!
5 Oktober 2010
Sehari sebelum menjadi pengantin, tepatnya 8 Mei 2010, segala persiapan telah dimulai di rumah. Tenda telah terpasang. Bagus sekali, berwarna coklat, krem, emas, sedikit warna merah, dan ada sentuhan putih di pasang di sepanjang halaman rumah. Tepat di atas pagar, terdapat rumah bambu khas Bugis bila ada gelaran perkawinan. Saya lupa apa namanya, meski ibu pernah menjelaskannya secara detail padaku.
Kursi-kursi pun telah dikeluarkan dari rumah dan diletakkan di teras. Rumah ditutupi dengan karpet-karpet tebal. Dekorasi khas Bugis pun telah terpasang menutup dinding. Yang paling membuat saya terpana ketika baru saja tiba di rumah setelah menempuh perjalanan dari Jakarta sehari sebelumnya adalah pelaminan. Ya, pelaminan telah terpasang. Oh my God, saya benar-benar akan segera menikah.
Hari itu kesibukan memang sudah sangat terasa sejak pagi. Ketika saya bangun, ibu pun mengingatkan saya untuk bersiap karena sebelum matahari meninggi, indo botting saya, H. Nia, akan datang. Konon katanya, dia akan memandikan saya untuk membuka aura calon pengantin. Banyak yang disiapkan untuk acara mandi ini, ada sejumlah koin, berbagai jenis daun-daunan, kelapa, dan saya tak tahu apa lagi karena memang ibu yang menyiapkan. Gadis-gadis yang belum menikah pun diminta berada di dekatku saat proses mandi itu. Untuk membuka aura dan jodoh mereka, katanya.
Acara mandi ini berlangsung cukup seru. Sebelum matahari meninggi, sesuai instruksi, sekitar pukul 09.00, prosesi ini pun dimulai. Saya diminta hanya mengenakan barang-barang yang akan saya relakan untuk buang nantinya. Ibu sudah menyiapkan sarung untukku, juga handuk untuk menutupi dada. H. Nia pun dengan penuh konsentrasi sambil mulutnya komat-kamit entah mengucapkan mantra apa perlahan-lahan menuangkan air ke kepala yang mengalir ke tubuhku.
Sungguh saya takut sekali saat itu. Bukan apa-apa, saya takut hal itu mengarah ke kemusyrikan. Sepanjang prosesi, saya terus membaca Al-Fatihah, Ayat Kursi. Saya berdzikir. Ya Allah, ampuni hamba, hamba berserah dan menyembah hanya padaMu. Apapun tujuan prosesi ini, kuniatkan sepenuh hati hanya untuk prosesi saja, tanpa mengharapkan hasil apapun.
Selepas itu, gadis-gadis yang belum menikah, termasuk dua orang saudara perempuan saya, bahkan tante saya yang sudah tak terikat pernikahan lagi, ikut-ikutan berebut koin. Seru sekali.
Tak itu saja, selesai mandi, saya diminta mengenakan pakaian berwarna putih bawahannya sarung. Ada satu prosesi lagi, mencukur alis. Seumur hidup saya belum pernah mencukur alis. Prosesinya juga tak sembarangan. Untuk prosesi ini, disediakan kelapa muda beserta airnya, lilin, dan juga kue onde-onde. Alisku pun mulai dirapikan, begitu juga dengan anak-anak rambut di kepala. Alis yang melengket di silet pun dicelupkan di air kelapa yang sudah disiapkan tadi.
Setelah itu, indo botting pun menyuapkanku kue onde-onde. Enak sekali kuenya. Kata H. Nia, kue onde-onde yang disiapkan untuk calon pengantin biasanya rasanya memang lebih lezat hingga kita ingin terus memakannya hingga habis. Prosesi selesai. H. Nia berpesan, sejak saat itu hingga hari pengantin, saya dilarang untuk mengenakan make-up sendiri. Okelah, di hari terakhir saya sebagai gadis single, saya menurut saja. ^^
Sehari sebelum menjadi pengantin, tepatnya 8 Mei 2010, segala persiapan telah dimulai di rumah. Tenda telah terpasang. Bagus sekali, berwarna coklat, krem, emas, sedikit warna merah, dan ada sentuhan putih di pasang di sepanjang halaman rumah. Tepat di atas pagar, terdapat rumah bambu khas Bugis bila ada gelaran perkawinan. Saya lupa apa namanya, meski ibu pernah menjelaskannya secara detail padaku.
Kursi-kursi pun telah dikeluarkan dari rumah dan diletakkan di teras. Rumah ditutupi dengan karpet-karpet tebal. Dekorasi khas Bugis pun telah terpasang menutup dinding. Yang paling membuat saya terpana ketika baru saja tiba di rumah setelah menempuh perjalanan dari Jakarta sehari sebelumnya adalah pelaminan. Ya, pelaminan telah terpasang. Oh my God, saya benar-benar akan segera menikah.
Hari itu kesibukan memang sudah sangat terasa sejak pagi. Ketika saya bangun, ibu pun mengingatkan saya untuk bersiap karena sebelum matahari meninggi, indo botting saya, H. Nia, akan datang. Konon katanya, dia akan memandikan saya untuk membuka aura calon pengantin. Banyak yang disiapkan untuk acara mandi ini, ada sejumlah koin, berbagai jenis daun-daunan, kelapa, dan saya tak tahu apa lagi karena memang ibu yang menyiapkan. Gadis-gadis yang belum menikah pun diminta berada di dekatku saat proses mandi itu. Untuk membuka aura dan jodoh mereka, katanya.
Acara mandi ini berlangsung cukup seru. Sebelum matahari meninggi, sesuai instruksi, sekitar pukul 09.00, prosesi ini pun dimulai. Saya diminta hanya mengenakan barang-barang yang akan saya relakan untuk buang nantinya. Ibu sudah menyiapkan sarung untukku, juga handuk untuk menutupi dada. H. Nia pun dengan penuh konsentrasi sambil mulutnya komat-kamit entah mengucapkan mantra apa perlahan-lahan menuangkan air ke kepala yang mengalir ke tubuhku.
Sungguh saya takut sekali saat itu. Bukan apa-apa, saya takut hal itu mengarah ke kemusyrikan. Sepanjang prosesi, saya terus membaca Al-Fatihah, Ayat Kursi. Saya berdzikir. Ya Allah, ampuni hamba, hamba berserah dan menyembah hanya padaMu. Apapun tujuan prosesi ini, kuniatkan sepenuh hati hanya untuk prosesi saja, tanpa mengharapkan hasil apapun.
Selepas itu, gadis-gadis yang belum menikah, termasuk dua orang saudara perempuan saya, bahkan tante saya yang sudah tak terikat pernikahan lagi, ikut-ikutan berebut koin. Seru sekali.
Tak itu saja, selesai mandi, saya diminta mengenakan pakaian berwarna putih bawahannya sarung. Ada satu prosesi lagi, mencukur alis. Seumur hidup saya belum pernah mencukur alis. Prosesinya juga tak sembarangan. Untuk prosesi ini, disediakan kelapa muda beserta airnya, lilin, dan juga kue onde-onde. Alisku pun mulai dirapikan, begitu juga dengan anak-anak rambut di kepala. Alis yang melengket di silet pun dicelupkan di air kelapa yang sudah disiapkan tadi.
Setelah itu, indo botting pun menyuapkanku kue onde-onde. Enak sekali kuenya. Kata H. Nia, kue onde-onde yang disiapkan untuk calon pengantin biasanya rasanya memang lebih lezat hingga kita ingin terus memakannya hingga habis. Prosesi selesai. H. Nia berpesan, sejak saat itu hingga hari pengantin, saya dilarang untuk mengenakan make-up sendiri. Okelah, di hari terakhir saya sebagai gadis single, saya menurut saja. ^^
Ihhh...Semut...
5 Oktober 2010
Selamat Hari Ulang Tahun TNI ke-65. Hehehe.. Bangun pagi, topik ini yang dibahas di seluruh stasiun televisi. Ya, hari ini TNI memang sedang merayakan hari kelahirannya. Rangkaian atraksi telah siap untuk dipamerkan termasuk tujuh pesawat sukhoi yang sudah sejak dua hari tampak 'berkeliaran' di langit Jakarta.
Tapi,apa hubungannya TNI dengan semut? Hahaha, sama-sama suka berbaris kali yah (jayus ^^'). Sebenarnya saya mau bercerita tentang bandelnya semut-semut di rumah ini. Entah kenapa, sepertinya semut-semut itu hanya suka padaku. Dari leher, punggung, perut, paha semua dapat jatah digigitnya. Menyebalkan. Kenapa hanya saya? Suamiku tak pernah diusiknya. Tapi, syukurlah, berarti hanya saya yang diusili oleh semut-semut edan itu.
Semut-semut itu juga sepertinya tahu betul di mana saya berada. Contoh saja, di tempat tidur kami, entah darimana datangnya, tiba-tiba saja semut itu sudah ada di bantalku, di selimut, di balik bajuku, menggigit pahaku bila saat itu saya sedang mengenakan celana pendek. Sungguh terlalu.
Semutnya pun bukan semut biasa, melainkan semut merah yang berukuran cukup besar dengan gigitan yang menyakitkan dan menimbulkan bekas di kulit. Meskipun sekeliling tembok dan tempat tidur sudah digoreskan kapur semut dan suamiku rajin menyemprotkan anti-serangga, tetap saja mereka datang.
Semut-semut penjajah itu sungguh membuat saya frustasi dan trauma. Saya harus selalu mengusapkan minyak kayu putih di bagian kulitku yang tak tertutup kain saat tidur. Sebisa mungkin saya pun menggunakan pakaian tertutup untuk meminimalisir gigitannya. Saya pun menjadi sangat sensitif dan langsung tahu bila semut itu hinggap di kulit. Tapi, tetap saja saya kecolongan. Semut-semut itu tetap bisa menggigitku. Tiap hari ada saja bekas gigitan baru di kulitku. Tidur tak nyenyak. Tolong, saya benar-benar dihantui semut.
Demi menghindari serangan semut di tempat tidurku, saya pun mengajak suami untuk tidur di kamar sebelah dengan tempat tidur yang lebih kecil dan tak ber-AC. Tapi, demi menghindari semut, saya rela deh. Saya tak mau kulitku korengan hanya gara-gara semut edan. Alhamdulillah, sejak pindah ke kamar ini, semut tak berhasil mendapatkanku. Baguslah. Enyahlah kau semut. Sungguh saya benci padamu.....
Selamat Hari Ulang Tahun TNI ke-65. Hehehe.. Bangun pagi, topik ini yang dibahas di seluruh stasiun televisi. Ya, hari ini TNI memang sedang merayakan hari kelahirannya. Rangkaian atraksi telah siap untuk dipamerkan termasuk tujuh pesawat sukhoi yang sudah sejak dua hari tampak 'berkeliaran' di langit Jakarta.
Tapi,apa hubungannya TNI dengan semut? Hahaha, sama-sama suka berbaris kali yah (jayus ^^'). Sebenarnya saya mau bercerita tentang bandelnya semut-semut di rumah ini. Entah kenapa, sepertinya semut-semut itu hanya suka padaku. Dari leher, punggung, perut, paha semua dapat jatah digigitnya. Menyebalkan. Kenapa hanya saya? Suamiku tak pernah diusiknya. Tapi, syukurlah, berarti hanya saya yang diusili oleh semut-semut edan itu.Semut-semut itu juga sepertinya tahu betul di mana saya berada. Contoh saja, di tempat tidur kami, entah darimana datangnya, tiba-tiba saja semut itu sudah ada di bantalku, di selimut, di balik bajuku, menggigit pahaku bila saat itu saya sedang mengenakan celana pendek. Sungguh terlalu.
Semutnya pun bukan semut biasa, melainkan semut merah yang berukuran cukup besar dengan gigitan yang menyakitkan dan menimbulkan bekas di kulit. Meskipun sekeliling tembok dan tempat tidur sudah digoreskan kapur semut dan suamiku rajin menyemprotkan anti-serangga, tetap saja mereka datang.
Semut-semut penjajah itu sungguh membuat saya frustasi dan trauma. Saya harus selalu mengusapkan minyak kayu putih di bagian kulitku yang tak tertutup kain saat tidur. Sebisa mungkin saya pun menggunakan pakaian tertutup untuk meminimalisir gigitannya. Saya pun menjadi sangat sensitif dan langsung tahu bila semut itu hinggap di kulit. Tapi, tetap saja saya kecolongan. Semut-semut itu tetap bisa menggigitku. Tiap hari ada saja bekas gigitan baru di kulitku. Tidur tak nyenyak. Tolong, saya benar-benar dihantui semut.
Demi menghindari serangan semut di tempat tidurku, saya pun mengajak suami untuk tidur di kamar sebelah dengan tempat tidur yang lebih kecil dan tak ber-AC. Tapi, demi menghindari semut, saya rela deh. Saya tak mau kulitku korengan hanya gara-gara semut edan. Alhamdulillah, sejak pindah ke kamar ini, semut tak berhasil mendapatkanku. Baguslah. Enyahlah kau semut. Sungguh saya benci padamu.....
04 October 2010
Si Kacamata Jepang
Kacamata plastik buatan Jepang itu kini teronggok begitu saja di atas kotak riasku. Aku menggeleng-geleng. Suamiku..suamiku.. Sebelumnya, kami telah berkeliling ke beberapa Sogo untuk mencari kacamata itu. Katanya, kacamata itu berguna untuk melatih mata yang minus agar bisa lebih fokus dalam melihat. Saya sendiri belum pernah melihat kacamata itu sebelumnya. Suamiku bilang, kacamata itu biasanya ada di tempat pernak-pernik impor dari Jepang. Beberapa kali kami mencarinya, tidak ketemu.
Awalnya, suamiku pernah sekali melihat kacamata itu di Sogo, tapi saat itu tak langsung dibelinya. Katanya harganya Rp25 ribu. Suatu saat, dia melihat kacamata serupa tapi di Century, harganya Rp300 ribu. Sejak itu, dia seperti terobsesi untuk mencari kacamata itu. Setiap kali kami mencari dan tak menemukannya, dia cemberut. Mukanya ditekuk. “Harusnya waktu itu langsung aku beli aja,” gerutunya.
Setelah beberapa kali pencarian, akhirnya kami menemukan kacamata idamannya tersebut. Tepatnya di Sogo Mall Kelapa Gading. Sungguh di luar bayanganku. Ternyata kacamata yang dicarinya itu jelek sekali. Kacamata hitam terbuat dari plastik, tak ada kacanya, hanya plastik dengan bolongan-bolongan kecil di bagian depannya. Aku tersenyum-senyum melihatnya. Dia pun dengan puas membayar kacamata aneh itu di kasir, harganya Rp32 ribu.
Sesampainya di rumah, suamiku langsung memakai kacamata itu untuk menonton televisi. Terlihat aneh, di rumah tetapi memakai kacamata hitam. “Wah, emang lebih jelas nih kalo nonton pake kacamata ini,” katanya semangat dan berkali-kali diulangnya kalimat itu. Saya pun sempat mencobanya, bukannya fokus, pandanganku justru berbayang.
Setelah lebih sebulan membeli, sekarang aku yakin, kacamata Jepang itu hanya obsesi tak jelasnya. Tak lebih dari tiga kali dia memakai kacamata itu untuk menonton televisi. Dan seperti yang tadi kubilang, kacamata itu kini teronggok begitu saja di atas kotak riasku. Tapi, aku tak pernah menyalahkannya. Aku justru mencintai dia karena semangatnya, obsesinya yang menggebu-gebu, cueknya, ketenangannya.
Yah, biarkan sajalah kacamata Jepang itu teronggok begitu saja. Toh, aku juga tak tahan bila melihatnya mondar-mondir di rumah dengan kacamata hitam plastik itu. ^_^’
Salam
4 Oktober 2010
Assalamualaikum Wr Wb
Maaf, saya baru hadir lagi. Tak terasa sudah nyaris setahun saya tidak menyentuh blog ini. Terakhir tercatat 8 Desember 2009 dan tanpa terasa sekarang sudah 4 Oktober 2010. Banyak hal yang terlewatkan, tak tertulis, ada yang masih tersimpan jelas dalam memori dan banyak pula yang sudah terlupakan. Yang pasti, saya melewati sangat banyak hal dalam kurun waktu hampir setahun ini.
*13 Januari 2010
Saya tepat berusia 24 tahun. Banyak hal yang berubah. Terus bergerak menuju kedewasaan. Meskipun sebenarnya saya berpikir, sepertinya lebih enak menjadi kanak-kanak. Berpikir sederhana, polos, lugu dan tanpa beban. Tapi saya juga sungguh menikmati proses pendewasaan. Mereguk semua kebebasan, bertindak dan berpikir, memanfaatkan waktu dan bertanggungjawab. Thank God, saya masih diberi kesempatan.
*26 Februari 2010
Kami sepakat untuk melanjutkan cinta kami ke jenjang yang lebih serius. Ya, saya dan dia. Idjonk, orang yang selama empat tahun terakhir menemani hari-hariku. Ya, hari itu dia mengikatku dengan sebuah cincin pengikat dalam sebuah acara keluarga bernuansa adat Bugis. Kami menyebutnya Mappetuada. Bisa juga disebut lamaran. Dia dan keluarganya datang melamar ke rumah orang tuaku di Makassar.
Saya sungguh menikmati acara ini meskipun tidak boleh melihat langsung prosesnya. Saya memakai baju bodo berwarna orange dan bersarung sutra. Rumah pun ditata sedemikian rupa dengan bosara merah dan emas yang berjejer, berisikan aneka kue-kue Bugis yang manis dan sangat lezat. Ibu pun memesan catering untuk sekitar 150 orang. Memang tamu hari itu cukup banyak, baik keluarga, kerabat dan tetangga.
Saya hanya duduk di kamar, mendengar pihak keluarga laki-laki datang dan menyampaikan maksud ke pihak keluarga perempuan. Pihak laki-laki menyampaikan bahwa mereka datang atas nama Djoni Irfandi dengan maksud untuk melamar seorang gadis di rumah itu bernama Astri Istiana Ihsan. (hehehe...)
Kedua pihak keluarga pun berdiskusi mengenai rencana tanggal pernikahan. Sepakat, 9 Mei 2010 ditetapkan sebagai hari pernikahan kami nantinya. Calon mertuaku pun masuk ke kamar dan memakaikanku cinci pengikat pertanda resminya kesepakatan kedua keluarga. Setelah itu, saya diminta keluar dari kamar, bagai dipamerkan di hadapan seluruh keluarga. Tapi, hanya sebentar saja, mungkin sekitar 5 menit sampai akhirnya saya diminta untuk kembali ke kamar. Ya, memang begitulah adat Bugis.
Lamaran ini merupakan suatu langkah besar bagi kami berdua. Setelah berdebat dengan wacana ini selama nyaris setahun, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, pertengkaran demi pertengkaran, perbedaan demi perbedaan, ternyata cinta kami yang menang. Kami melewati berbagai rintangan itu dan akhirnya sampai di satu titik, kami ingin dan akan menikah. Saya sangat bahagia, dan saya melihat rona yang sama di wajahnya. Alhamdulillah.
*3 Maret 2010
Satu keputusan besar lagi yang saya buat. Sembari menyiapkan tetek-bengek lamaran, ketika itu saya juga memulai proses untuk pindah kerja. Saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Jurnal Nasional, sebuah gedung tua namun berisi orang-orang yang hangat, menyenangkan dan penuh rasa kekeluargaan.
Saya meninggalkan pekerjaan saya sebagai reporter desk internasional dan kuliner yang telah saya jalani sejak 7 Januari 2008. Bukan karena saya tak mencintai pekerjaan saya. Saat itu saya justru sangat menikmati menjadi kuli tinta. Namun, berpikir akan segera menikah, saya memutuskan untuk berganti pekerjaan yang lebih "ramah waktu". Saya ingin bekerja tapi tetap bisa mengurus rumah dan suami. Alasan kesejahteraan pun jadi satu faktor yang ingin saya kejar.
Tepat 3 Maret 2010, saya mulai bekerja di tvOne. Di tempat yang baru, sistem kerja berjalan dengan baik. Saya berkewajiban kerja 8 jam sehari dengan waktu yang lebih pasti. Alhamdulillah, pendapatan pun ada peningkatan signifikan. Saya mencoba menikmati perkerjaan ini. Awalnya terasa berat beradaptasi dengan lingkungan yang baru, cara kerja dan tantangan yang baru, dengan kepuasan kerja yang berbeda, tapi saya benar-benar berusaha menjalaninya.
*9 Mei 2010
Saya menjadi seorang isteri. Dengan khidmat, bapak menikahkan saya dengan laki-laki yang benar-benar saya cintai. Ijab kabul terucap lancar. Haru. Mulai saat itu, saya bukan lagi menjadi tanggung jawab orang tua. Suamiku bertanggung jawab penuh atas diriku. "Bapak lepas kamu, nak" itu yang dibisikkan bapak padaku saat saya sungkem di lututnya. Saya sungguh bersedih tapi juga bahagia.
Acara pernikahan yang digelar di rumah berlangsung meriah. Tak terlalu banyak orang yang diundang. Saat itu, kami, pasangan pengantin mengenakan baju adat berwarna hijau. Hijau dipilih karena warna itu melambangkan kebangsawanan bagi suku Bugis. Kami bukan bangsawan, tapi di hari istemewa ini, boleh kan tampil spesial layaknya bangsawan. Saya suka sekali dengan pakaian ini. Acara hari itu berkesan sangat tradisional, ada tari-tarian dan yang paling saya suka adalah bunyi pui-pui, alat musik khas Bugis, sangat sendu dan menggetarkan, mengantar sang mempelai laki-laki saat masuk ke rumah mempelai perempuan.
Acara belum berakhir. Kami tetap harus menyiapkan tenaga karena malam besok, 10 Mei 2010, akan digelar resepsi di gedung. Ya, kami harus menyimpan tenaga dan menjaga aura. hehehehe, tak ada malam pertama. :p.
Resepsi sendiri berjalan lancar. Kami memakai pakaian adat merah, cantik sekali. Tamu-tamu banyak sekali yang datang. Dekorasi gedung pun tertata indah. Yang menyenangkan, beberapa teman-teman dekat dari Jakarta juga hadir, ada Nida dan Tuyul, bahkan orang tua Nida juga hadir. Teman-teman lama juga banyak yang datang. Ahh, senangnya....
Untuk kelanjutannya, nanti aja yah ceritanya.. hehe.. dilanjutkan lain waktu, post ini sudah kepanjangan sepertinya..Wassalam..
Assalamualaikum Wr Wb
Maaf, saya baru hadir lagi. Tak terasa sudah nyaris setahun saya tidak menyentuh blog ini. Terakhir tercatat 8 Desember 2009 dan tanpa terasa sekarang sudah 4 Oktober 2010. Banyak hal yang terlewatkan, tak tertulis, ada yang masih tersimpan jelas dalam memori dan banyak pula yang sudah terlupakan. Yang pasti, saya melewati sangat banyak hal dalam kurun waktu hampir setahun ini.
*13 Januari 2010
Saya tepat berusia 24 tahun. Banyak hal yang berubah. Terus bergerak menuju kedewasaan. Meskipun sebenarnya saya berpikir, sepertinya lebih enak menjadi kanak-kanak. Berpikir sederhana, polos, lugu dan tanpa beban. Tapi saya juga sungguh menikmati proses pendewasaan. Mereguk semua kebebasan, bertindak dan berpikir, memanfaatkan waktu dan bertanggungjawab. Thank God, saya masih diberi kesempatan.
*26 Februari 2010
Kami sepakat untuk melanjutkan cinta kami ke jenjang yang lebih serius. Ya, saya dan dia. Idjonk, orang yang selama empat tahun terakhir menemani hari-hariku. Ya, hari itu dia mengikatku dengan sebuah cincin pengikat dalam sebuah acara keluarga bernuansa adat Bugis. Kami menyebutnya Mappetuada. Bisa juga disebut lamaran. Dia dan keluarganya datang melamar ke rumah orang tuaku di Makassar.
Saya sungguh menikmati acara ini meskipun tidak boleh melihat langsung prosesnya. Saya memakai baju bodo berwarna orange dan bersarung sutra. Rumah pun ditata sedemikian rupa dengan bosara merah dan emas yang berjejer, berisikan aneka kue-kue Bugis yang manis dan sangat lezat. Ibu pun memesan catering untuk sekitar 150 orang. Memang tamu hari itu cukup banyak, baik keluarga, kerabat dan tetangga.
Saya hanya duduk di kamar, mendengar pihak keluarga laki-laki datang dan menyampaikan maksud ke pihak keluarga perempuan. Pihak laki-laki menyampaikan bahwa mereka datang atas nama Djoni Irfandi dengan maksud untuk melamar seorang gadis di rumah itu bernama Astri Istiana Ihsan. (hehehe...)
Kedua pihak keluarga pun berdiskusi mengenai rencana tanggal pernikahan. Sepakat, 9 Mei 2010 ditetapkan sebagai hari pernikahan kami nantinya. Calon mertuaku pun masuk ke kamar dan memakaikanku cinci pengikat pertanda resminya kesepakatan kedua keluarga. Setelah itu, saya diminta keluar dari kamar, bagai dipamerkan di hadapan seluruh keluarga. Tapi, hanya sebentar saja, mungkin sekitar 5 menit sampai akhirnya saya diminta untuk kembali ke kamar. Ya, memang begitulah adat Bugis.
Lamaran ini merupakan suatu langkah besar bagi kami berdua. Setelah berdebat dengan wacana ini selama nyaris setahun, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, pertengkaran demi pertengkaran, perbedaan demi perbedaan, ternyata cinta kami yang menang. Kami melewati berbagai rintangan itu dan akhirnya sampai di satu titik, kami ingin dan akan menikah. Saya sangat bahagia, dan saya melihat rona yang sama di wajahnya. Alhamdulillah.
*3 Maret 2010
Satu keputusan besar lagi yang saya buat. Sembari menyiapkan tetek-bengek lamaran, ketika itu saya juga memulai proses untuk pindah kerja. Saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Jurnal Nasional, sebuah gedung tua namun berisi orang-orang yang hangat, menyenangkan dan penuh rasa kekeluargaan.
Saya meninggalkan pekerjaan saya sebagai reporter desk internasional dan kuliner yang telah saya jalani sejak 7 Januari 2008. Bukan karena saya tak mencintai pekerjaan saya. Saat itu saya justru sangat menikmati menjadi kuli tinta. Namun, berpikir akan segera menikah, saya memutuskan untuk berganti pekerjaan yang lebih "ramah waktu". Saya ingin bekerja tapi tetap bisa mengurus rumah dan suami. Alasan kesejahteraan pun jadi satu faktor yang ingin saya kejar.
Tepat 3 Maret 2010, saya mulai bekerja di tvOne. Di tempat yang baru, sistem kerja berjalan dengan baik. Saya berkewajiban kerja 8 jam sehari dengan waktu yang lebih pasti. Alhamdulillah, pendapatan pun ada peningkatan signifikan. Saya mencoba menikmati perkerjaan ini. Awalnya terasa berat beradaptasi dengan lingkungan yang baru, cara kerja dan tantangan yang baru, dengan kepuasan kerja yang berbeda, tapi saya benar-benar berusaha menjalaninya.
*9 Mei 2010
Saya menjadi seorang isteri. Dengan khidmat, bapak menikahkan saya dengan laki-laki yang benar-benar saya cintai. Ijab kabul terucap lancar. Haru. Mulai saat itu, saya bukan lagi menjadi tanggung jawab orang tua. Suamiku bertanggung jawab penuh atas diriku. "Bapak lepas kamu, nak" itu yang dibisikkan bapak padaku saat saya sungkem di lututnya. Saya sungguh bersedih tapi juga bahagia.
Acara pernikahan yang digelar di rumah berlangsung meriah. Tak terlalu banyak orang yang diundang. Saat itu, kami, pasangan pengantin mengenakan baju adat berwarna hijau. Hijau dipilih karena warna itu melambangkan kebangsawanan bagi suku Bugis. Kami bukan bangsawan, tapi di hari istemewa ini, boleh kan tampil spesial layaknya bangsawan. Saya suka sekali dengan pakaian ini. Acara hari itu berkesan sangat tradisional, ada tari-tarian dan yang paling saya suka adalah bunyi pui-pui, alat musik khas Bugis, sangat sendu dan menggetarkan, mengantar sang mempelai laki-laki saat masuk ke rumah mempelai perempuan.
Acara belum berakhir. Kami tetap harus menyiapkan tenaga karena malam besok, 10 Mei 2010, akan digelar resepsi di gedung. Ya, kami harus menyimpan tenaga dan menjaga aura. hehehehe, tak ada malam pertama. :p.
Resepsi sendiri berjalan lancar. Kami memakai pakaian adat merah, cantik sekali. Tamu-tamu banyak sekali yang datang. Dekorasi gedung pun tertata indah. Yang menyenangkan, beberapa teman-teman dekat dari Jakarta juga hadir, ada Nida dan Tuyul, bahkan orang tua Nida juga hadir. Teman-teman lama juga banyak yang datang. Ahh, senangnya....
Untuk kelanjutannya, nanti aja yah ceritanya.. hehe.. dilanjutkan lain waktu, post ini sudah kepanjangan sepertinya..Wassalam..
04 November 2009
.....
SAYA cuma merasa bosan. Jenuh dengan keseharian. Otak saya penuh dengan kreativitas, dada saya penuh dengan lonjakan semangat, tubuh saya penuh dengan energi. Jangan kurung saya disini. Beri saya kertas untuk menggambar, beri saya kamera untuk memotret, biarkan tangan saya menari di atas keyboard komputer menuliskan apapun yang saya inginkan. Kau lihat? Saya hidup dan berarti.
08 February 2009
Pilihan
Saya benci sekali bila diminta memilih. Please, itu bukan keahlian saya. Entah mengapa saya selalu merasa kesulitan bila harus memilih. Seperti, apakah saya lebih menyukai pantai ataukah gunung, lebih memilih warna hitam atau putih, memilih matahari cerah ataukah hujan, memilih tinggal bersama orang tua dengan berbagai peraturan ataukah memilih hidup sendiri dan bebas berbuat apapun, atau sesederhana memilih makanan tradisional ataukah makanan modern mancanegara yang selalu saya cicipi tiap minggunya.
Mungkin saya bukan seorang pemimpin yang baik karena saya benar-benar merasa kesulitan bila dihadapkan pada dua pilihan. Walaupun pada akhirnya saya pasti akan mengambil satu jalan saja, tapi bagi saya sulit untuk tidak mencoba jalan yang satu lagi. Saya mencintai banyak hal dengan kesenangan dan rasa ingin tahu yang sama. Saya ingin mencoba semuanya. Saya menyukai semuanya. Kenapa saya harus memilih di antara dua hal yang sama-sama saya senangi?
Ketika saya memilih bermain ombak di pantai, bukan berarti saya tidak mencintai gunung. Saya suka merasakan terbayarnya lelah ketika bisa mencapai satu puncak, sama seperti bahagianya saya ketika bisa bergulung-gulung di ombak dan mengotori kaki telanjang saya dengan pasir berkerang. Saya menyukai warna hitam, putih dan semua warna lainnya. Saya suka matahari cerah karena akan memberikan saya energi dan semangat. Tapi cerahnya matahari menyebabkan tubuh saya berkeringat dan kelelahan. Di sisi lain, terkadang ketika sedang butuh meluapkan adrenalin, keringat dan kelelahan adahal hal yang saya cari-cari. Keduanya membuat saya merasa lebih lega dan bisa tertidur lebih pulas. Saya juga suka hujan karena membuat orang menjadi lebih ramah dan hangat meskipun terkadang saya ketakutan dengan petir dan kilat di kala sedang sendirian. Terkadang saya justru bersyukur dengan keberadaan petir dan kilat, kedua ciptaan mengagumkan itu membuat kedua keponakan saya ketakutan dan memeluk saya erat sampai mereka ketiduran. Saya suka.
Bisakah tidak perlu ada pilihan antara baik dan buruk, hanya ada baik dan baik? Dengan begitu, apapun yang saya ambil, hasilnya hanya baik. Bisakah semudah itu? Bagaimana saya bisa tahu bahwa yang terlihat baik nantinya akan tetap baik ataukah yang terlihat tidak baik nantinya akan tetap tidak baik? Bisa saja kan yang baik menjadi jahat dan yang jahat menjadi baik? Bagaimana saya harus memilih antara hidup mapan ataukah hidup penuh cinta? Bisakah jika keduanya digabung saja dan tidak membingungkan saya? Bagaimana saya harus memilih jika keadaannya seperti itu?
Akhhh, saya kesulitan bila harus memilih. Tapi, di sisi lain, saya juga bersyukur masih ada pilihan. Apa jadinya manusia jika tidak pernah dihadapkan pada pilihan? Mungkin manusia cuma bisa menjadi makhluk yang manja, pasif, pasrah, tak punya daya upaya untuk mau merubah keadaan. Bila mengingat hal itu sih, saya memilih untuk selalu bisa memilih. Apapun pilihannya akan saya hadapi. Mungkinkah bila saya katakan bahwa “hidup adalah seni memilih”? Hmmm, mudah-mudahan saya tidak terlalu buruk dalam bidang kesenian.
Mungkin saya bukan seorang pemimpin yang baik karena saya benar-benar merasa kesulitan bila dihadapkan pada dua pilihan. Walaupun pada akhirnya saya pasti akan mengambil satu jalan saja, tapi bagi saya sulit untuk tidak mencoba jalan yang satu lagi. Saya mencintai banyak hal dengan kesenangan dan rasa ingin tahu yang sama. Saya ingin mencoba semuanya. Saya menyukai semuanya. Kenapa saya harus memilih di antara dua hal yang sama-sama saya senangi?
Ketika saya memilih bermain ombak di pantai, bukan berarti saya tidak mencintai gunung. Saya suka merasakan terbayarnya lelah ketika bisa mencapai satu puncak, sama seperti bahagianya saya ketika bisa bergulung-gulung di ombak dan mengotori kaki telanjang saya dengan pasir berkerang. Saya menyukai warna hitam, putih dan semua warna lainnya. Saya suka matahari cerah karena akan memberikan saya energi dan semangat. Tapi cerahnya matahari menyebabkan tubuh saya berkeringat dan kelelahan. Di sisi lain, terkadang ketika sedang butuh meluapkan adrenalin, keringat dan kelelahan adahal hal yang saya cari-cari. Keduanya membuat saya merasa lebih lega dan bisa tertidur lebih pulas. Saya juga suka hujan karena membuat orang menjadi lebih ramah dan hangat meskipun terkadang saya ketakutan dengan petir dan kilat di kala sedang sendirian. Terkadang saya justru bersyukur dengan keberadaan petir dan kilat, kedua ciptaan mengagumkan itu membuat kedua keponakan saya ketakutan dan memeluk saya erat sampai mereka ketiduran. Saya suka.
Bisakah tidak perlu ada pilihan antara baik dan buruk, hanya ada baik dan baik? Dengan begitu, apapun yang saya ambil, hasilnya hanya baik. Bisakah semudah itu? Bagaimana saya bisa tahu bahwa yang terlihat baik nantinya akan tetap baik ataukah yang terlihat tidak baik nantinya akan tetap tidak baik? Bisa saja kan yang baik menjadi jahat dan yang jahat menjadi baik? Bagaimana saya harus memilih antara hidup mapan ataukah hidup penuh cinta? Bisakah jika keduanya digabung saja dan tidak membingungkan saya? Bagaimana saya harus memilih jika keadaannya seperti itu?
Akhhh, saya kesulitan bila harus memilih. Tapi, di sisi lain, saya juga bersyukur masih ada pilihan. Apa jadinya manusia jika tidak pernah dihadapkan pada pilihan? Mungkin manusia cuma bisa menjadi makhluk yang manja, pasif, pasrah, tak punya daya upaya untuk mau merubah keadaan. Bila mengingat hal itu sih, saya memilih untuk selalu bisa memilih. Apapun pilihannya akan saya hadapi. Mungkinkah bila saya katakan bahwa “hidup adalah seni memilih”? Hmmm, mudah-mudahan saya tidak terlalu buruk dalam bidang kesenian.
31 January 2009
L.O.V.E.
Sangat aneh berbicara tentang cinta. Saya bukan orang yang romantis ataupun orang yang bisa mendeskripsikan kata itu dengan indah. Bagi saya, cinta adalah kehidupan yang saya jalani sehari-hari. Sederhana.

Cinta adalah ketika kita sama-sama menikmati minuman favorit kita masing-masing.


Cinta adalah McDonalds ketika aku kelaparan atau beberapa scoop es krim saat lagi jenuh.

Cinta seperti pancake, mencampurkan sesuatu yang hangat dan dingin dalam satu piring sederhana.


.jpg)
Cinta adalah kekaguman yang sama ketika aku memakai converse, high heels ataupun bertelanjang kaki.
.jpg)
Cinta adalah ketika tidak perlu memakai topeng, dear..

Cinta adalah mencari kesamaan dalam banyak perbedaan. Membiarkanmu melakukan hobimu dan membiarkanku menikmati hariku.

Cinta adalah membiarkanku mencoba sisha untuk sekedar tahu rasanya apa.

Cinta tak perlu memaksaku untuk memilih biru atau pink.

Cinta adalah melebur tapi tetap menyisakan ruang untuk diri sendiri.

Cinta adalah membiarkanku bebas menjelajah apapun dan aku tau kamu tetap setia menungguku di luar.
Cinta adalah ketika kita sama-sama menikmati minuman favorit kita masing-masing.
Cinta adalah McDonalds ketika aku kelaparan atau beberapa scoop es krim saat lagi jenuh.
Cinta seperti pancake, mencampurkan sesuatu yang hangat dan dingin dalam satu piring sederhana.


.jpg)
Cinta adalah kekaguman yang sama ketika aku memakai converse, high heels ataupun bertelanjang kaki.
.jpg)
Cinta adalah ketika tidak perlu memakai topeng, dear..
Cinta adalah mencari kesamaan dalam banyak perbedaan. Membiarkanmu melakukan hobimu dan membiarkanku menikmati hariku.
Cinta adalah membiarkanku mencoba sisha untuk sekedar tahu rasanya apa.
Cinta tak perlu memaksaku untuk memilih biru atau pink.

Cinta adalah melebur tapi tetap menyisakan ruang untuk diri sendiri.

Cinta adalah membiarkanku bebas menjelajah apapun dan aku tau kamu tetap setia menungguku di luar.
19 January 2009
Hujan...
Jakarta kembali diguyur hujan. Semalam sekitar pukul 02.00 saya terbangun mendengar hujan yang turun dengan begitu lebatnya, disertai bunyi petir yang menyeramkan. Saya sendiri yang berada di kamar yang cukup nyaman sempat merasa takut. Gimana yach kehidupan orang-orang di luar sana yang tidak punya rumah, harus tinggal di kolong jembatan atau di depan emperan-emperan toko, bila menghadapi musim hujan seperti ini? Kasian.Seperti setiap tahunnya, musim hujan kali ini Jakarta pasti kembali menghadapi banjir. Hmmmm, dipastikan beberapa teman kantor pasti terlambat masuknya. Kalau pun masuk pasti dengan tampang kuyu, baju kucel, tanda-tanda rumahnya pun kebanjiran. Ada juga yang masuk kantor dengan tampang kusut karena berjam-jam menghadapi kemacetan. Beberapa orang bahkan rutin mengambil cuti di setiap musim hujan, karena banjir juga rutin mendatangi rumahnya di saat-saat itu. Uwghhhh, kasian. Kapan sih Jakarta dan segenap masyarakatnya mau berbenah diri?
18 January 2009
-ideal-

Setelah memiliki relationship yang cukup serius dengan seseorang, setelah bekerja di lingkungan yang mengharuskan saya memahami karakter banyak orang, akhirnya saya baru benar-benar menyadari perangai saya sendiri. Ternyata saya adalah orang yang mendetail dan terencana. Hidup saya selalu berjalan step by step, tidak pernah terlalu menyimpang jauh dari apa yang saya rencanakan.
Sebenarnya itu sesuatu yang seharusnya menjadi suatu hal yang positif. But, the plans is killing me. Ketika ada sesuatu yang berjalan menyimpang, tingkat intoleransi saya tiba-tiba meroket. Bahkan ke tingkat yang sebenarnya sudah tidak sehat. Saya tiba-tiba menjadi sosok yang idealis, menuntut segala sesuatunya serba ideal. I Know, sebenarnya hidup memang tak bisa semulus itu kan? Kadang kesalahan perlu dilakukan demi mendapatkan kebenaran. I know that exactly but it doesn't that easy to accepted.
Is it psychological deviance? Or it is just a human thing? Sebenarnya sih tidak separah itu. Tapi sekedar membuka wacana. Siapa tahu ada yang berkenan menjelaskan ini kepada saya. Bagaimana cara menerima sesuatu dengan lebih santai? Tidak melulu pakai logika, atau terus menghitung pakai hati tapi jawabannya tidak pernah ketemu. Lingkungan seperti apa yang diperlukan oleh orang-orang dengan kondisi ini? -Orang-orang yang merasa sakit yang berlebihan bila sesuatu tidak berjalan sesuai apa yang diharapkan/diinginkan/diimpikan- Apa ini gejala perfeksionis?
14 January 2009
diam.....
Semua yang terbaik sudah kuberikan
Apapun yang bisa membuatmu sekedar tersenyum juga sudah kulakukan
Sekarang, aku hening
Mudah-mudahan ini mundur selangkah untuk maju sepuluh langkah
-as-
Apapun yang bisa membuatmu sekedar tersenyum juga sudah kulakukan
Sekarang, aku hening
Mudah-mudahan ini mundur selangkah untuk maju sepuluh langkah
-as-
27 November 2008
Menyesal...
Aku baru saja melewatkan malam yang penuh rasa bersalah. Dan pagi ini aku terusik dengan kata-kata seorang teman di wall Facebook-ku "seandainya semua hal bisa diulang". Ada sesuatu yang mengusik hatiku membaca kata-kata itu.
Seandainya semua hal bisa diulang. Aku baca berkali-kali. Aku merenung. Seandainya semua bisa diulang, kira-kira apa yang terjadi dalam hidupku saat ini? Apa hidupku akan lebih baik? Atau justru jauh lebih buruk? Seandainya semua bisa diulang, kira-kira bagian mana yang harus kuulang? Seandainya semua bisa diulang bagian mana yang harus ku tipe-x? Bagian mana yang benar dan bagian mana yang salah?
Aku merenung. Kata-kata itu mengganjal hatiku. Seandainya semua hal bisa diulang. Apa aku sudah kehilangan rasa syukurku? Apa aku tak puas dengan hidupku saat ini? Apa lagi yang aku cari?
Teman, kau membuatku gundah. Berpikir tentang hidup dan kembali merenung. Mungkin jika semua hal bisa diulang, manusia pun akan kembali berharap "seandainya semua hal tidak bisa diulang".
Manusia memang terlahir rakus, tamak dan tak pernah puas. Sekarang, aku berpikir dan kusesali semua kesalahan dan dosaku. Sisi manusiaku pun berharap, seandainya semua hal bisa diulang...
Seandainya semua hal bisa diulang. Aku baca berkali-kali. Aku merenung. Seandainya semua bisa diulang, kira-kira apa yang terjadi dalam hidupku saat ini? Apa hidupku akan lebih baik? Atau justru jauh lebih buruk? Seandainya semua bisa diulang, kira-kira bagian mana yang harus kuulang? Seandainya semua bisa diulang bagian mana yang harus ku tipe-x? Bagian mana yang benar dan bagian mana yang salah?
Aku merenung. Kata-kata itu mengganjal hatiku. Seandainya semua hal bisa diulang. Apa aku sudah kehilangan rasa syukurku? Apa aku tak puas dengan hidupku saat ini? Apa lagi yang aku cari?
Teman, kau membuatku gundah. Berpikir tentang hidup dan kembali merenung. Mungkin jika semua hal bisa diulang, manusia pun akan kembali berharap "seandainya semua hal tidak bisa diulang".
Manusia memang terlahir rakus, tamak dan tak pernah puas. Sekarang, aku berpikir dan kusesali semua kesalahan dan dosaku. Sisi manusiaku pun berharap, seandainya semua hal bisa diulang...
24 September 2008
Fasting is agent of change
Puasa memang membawa banyak perubahan. Salah satu yang paling nyata adalah semua orang terlihat lebih mengantuk dari biasanya.
Contohnya saja Mas Agus, sekretaris redaksi yang biasanya paling rajin. Hampir setiap siang saat akan sholat dzuhur, saya lihat dia pasti lagi tertidur pulas di pojok musholla, sesuatu yang sangat jarang dilakukannya di hari-hari biasa.
Handphone selalu setia berada di atas perutnya. Tak jarang, alarm handphone-nya bunyi, dia hanya terbangun sebentar, melirik dan tertidur lagi.
Kantor redaksi pun bersuasana berbeda. Pemandangan redaktur sedang menundukkan kepala di atas meja ataupun menutupi muka dengan koran, menjulurkan kaki dan bersandar santai di kursi, juga jadi pemandangan biasa.
Di sisa-sisa puasa ini, suasana kantor pun jadi lebih lengang dan kurang bergairah. Setelah dapat THR, kayaknya sekarang pikiran semua orang sudah terbang ke kampung halamannya masing-masing.
Saya pun begitu. Ga sabar ngasih kejutan ke orang-orang rumah. Bayanginnya aja bisa bikin saya senyum-senyum sendiri. Bilang ga mudik tapi tau-taunya nongol di rumah. Hihihi.. Tiga hari lagi, 27 September 2008. Astri's back home, mom...
Contohnya saja Mas Agus, sekretaris redaksi yang biasanya paling rajin. Hampir setiap siang saat akan sholat dzuhur, saya lihat dia pasti lagi tertidur pulas di pojok musholla, sesuatu yang sangat jarang dilakukannya di hari-hari biasa.
Handphone selalu setia berada di atas perutnya. Tak jarang, alarm handphone-nya bunyi, dia hanya terbangun sebentar, melirik dan tertidur lagi.
Kantor redaksi pun bersuasana berbeda. Pemandangan redaktur sedang menundukkan kepala di atas meja ataupun menutupi muka dengan koran, menjulurkan kaki dan bersandar santai di kursi, juga jadi pemandangan biasa.
Di sisa-sisa puasa ini, suasana kantor pun jadi lebih lengang dan kurang bergairah. Setelah dapat THR, kayaknya sekarang pikiran semua orang sudah terbang ke kampung halamannya masing-masing.
Saya pun begitu. Ga sabar ngasih kejutan ke orang-orang rumah. Bayanginnya aja bisa bikin saya senyum-senyum sendiri. Bilang ga mudik tapi tau-taunya nongol di rumah. Hihihi.. Tiga hari lagi, 27 September 2008. Astri's back home, mom...
03 September 2008
Red Isn't My Sign
"Astri, pake merah lagi sih.. Ciri khasnya Astri," kata Mbak Atiek waktu ketemu di tangga.
Hahaha, kalau mikir gw adalah pecinta merah. Salah! Setelah gw pikir-pikir, ternyata gw memakai warna sesuai dengan suasana hati gw di pagi hari. Kalo lagi butuh kenyamanan, gw tanpa sadar lebih sering memilih warna hitam. Kalo mau kelihatan ceria, meskipun gw lagi sedih, gw biasanya make warna biru. Kalo lagi merasa sangat biasa, gw pake warna putih. Kalo lg centil, gw pake pink. Pake hijau kalo gw lagi pengen bergerak bebas dan bergaul. Warna ungu untuk membuat gw terlihat lebih dewasa. Gw pake cokelat kalo lagi merasa cantik. Kuning biar gw lebih bugar menghadapi hari. Trus kalo merah? Kenapa yach gw pake merah? Kayaknya gw pake merah biar matching aja tuch ama sepatu merah ama tas merah gw. Ga ada yang spesial tentang merah, kecuali itu adalah warna favorit Idjonk.
Hahaha, kalau mikir gw adalah pecinta merah. Salah! Setelah gw pikir-pikir, ternyata gw memakai warna sesuai dengan suasana hati gw di pagi hari. Kalo lagi butuh kenyamanan, gw tanpa sadar lebih sering memilih warna hitam. Kalo mau kelihatan ceria, meskipun gw lagi sedih, gw biasanya make warna biru. Kalo lagi merasa sangat biasa, gw pake warna putih. Kalo lg centil, gw pake pink. Pake hijau kalo gw lagi pengen bergerak bebas dan bergaul. Warna ungu untuk membuat gw terlihat lebih dewasa. Gw pake cokelat kalo lagi merasa cantik. Kuning biar gw lebih bugar menghadapi hari. Trus kalo merah? Kenapa yach gw pake merah? Kayaknya gw pake merah biar matching aja tuch ama sepatu merah ama tas merah gw. Ga ada yang spesial tentang merah, kecuali itu adalah warna favorit Idjonk.
25 August 2008
Sarapan
Hari ini gw berniat mengakhiri kebiasaan buruk gw, yaitu malas sarapan. Kemarin gw sarapan dulu sebelum ke kantor. Gw nyampe ke kantor jam 10.35 dan segera menulis. Alhasil, gw berhasil menyelesaikan delapan tulisan sebelum jam 17.00.
Hari ini gw ga sarapan. Walaupun perut gw keroncongan tapi baru gw isi jam 13.30 tadi. Ternyata, produktivitas gw sangat menurun. Jam 14.34 aja gw baru nyelesaiin lima tulisan. Itu juga kayaknya kurang bagus.
Terbukti!
Besok gw harus sarapan!!!
Hari ini gw ga sarapan. Walaupun perut gw keroncongan tapi baru gw isi jam 13.30 tadi. Ternyata, produktivitas gw sangat menurun. Jam 14.34 aja gw baru nyelesaiin lima tulisan. Itu juga kayaknya kurang bagus.
Terbukti!
Besok gw harus sarapan!!!
20 August 2008
Gw dan Shangri-La

Entah ini sudah yang berapa kalinya gw menyambangi Shangri-La untuk nyobain makanan-makanan enak di restorannya. Hari ini gw ke Shang-Palace. Tempat yang cozy, homey, makanannya juga ga aneh di lidah. Tapi jujur, gw lebih menikmati Rosso dan Satoo.
(Akhhh, akhirnya lambung gw terisi setelah seharian gw biarin menjerit-jerit)
Sekarang gw lagi duduk santai di sofa sembari nikmati free hotspot. Lari menjauh dan tenggelam dalam duniaku.
Salam,
as3
Kemerdekaan Diri
Gw jadi inget cerita Dity tentang seorang teman yang sejak awal kuliah rajin banget menabung dan ngumpulin duit. Bukan karena dia adalah orang yang hemat. Tapi, dia punya satu cita-cita. Setelah lulus kuliah, duit yang sudah terkumpul mau digunain untuk berkeliling Indonesia dan menjurnalkan hasil petualangannya. Keren! Tahun ini dia lulus kuliah. Kalo ga salah, wisuda akhir Agustus ini. Uang yang berhasil dikumpul sebanyak Rp25 juta.
Gw juga jadi inget baca cerita Naked Traveller yang dimuat di Cosmopolitan beberapa bulan lalu. Seorang cewek yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berkeliling dunia. How cool!! Saking hobinya, dia ga peduli semua gajinya bener-bener dipake untuk mengunjungi sebuah tempat baru. Dia memilih untuk ga punya rumah, ga punya mobil, dan ga takut untuk menjadi orang yang ga mapan untuk jelajahin berbagai negara, ketemu orang-orang baru, ngetawain fakta-fakta kecil yang ditemuin selama bertualang.
Menyenangkan sekali kalau sejak awal kita punya tujuan yang jelas dalam hidup. Punya cita-cita. Tau apa yang diinginkan. Tidak terjebak dalam sistem dan rutinitas. That's where i'm now, getting trapped.
Kalo sekarang gw ditanya, "berani ga untuk ninggalin semua yang gw punya, semua yang gw dapet, untuk ngeraih kebebasan dan kemerdekaan gw, jalanin apa yang gw mau, dan ikutin kata hati?", gw mungkin hanya bisa tertunduk dan bilang " kasi gw waktu untuk berpikir".
Salam,
as3
Gw juga jadi inget baca cerita Naked Traveller yang dimuat di Cosmopolitan beberapa bulan lalu. Seorang cewek yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berkeliling dunia. How cool!! Saking hobinya, dia ga peduli semua gajinya bener-bener dipake untuk mengunjungi sebuah tempat baru. Dia memilih untuk ga punya rumah, ga punya mobil, dan ga takut untuk menjadi orang yang ga mapan untuk jelajahin berbagai negara, ketemu orang-orang baru, ngetawain fakta-fakta kecil yang ditemuin selama bertualang.
Menyenangkan sekali kalau sejak awal kita punya tujuan yang jelas dalam hidup. Punya cita-cita. Tau apa yang diinginkan. Tidak terjebak dalam sistem dan rutinitas. That's where i'm now, getting trapped.
Kalo sekarang gw ditanya, "berani ga untuk ninggalin semua yang gw punya, semua yang gw dapet, untuk ngeraih kebebasan dan kemerdekaan gw, jalanin apa yang gw mau, dan ikutin kata hati?", gw mungkin hanya bisa tertunduk dan bilang " kasi gw waktu untuk berpikir".
Salam,
as3
19 August 2008
Tekad as3
Mulai hari ini, gw bertekad untuk kerja sekeras-kerasnya, cari duit sebanyak-banyaknya, terus bikin perusahaan sendiri biar ga jadi bawahan orang lain. Mulai hari ini, gw bertekad untuk jadi bos, biar ga ada yang perintah-perintah gw seenaknya. Mulai hari ini, gw bertekad basmi orang-orang pemalas, cari muka, yang ga bisa kerja, banyakan ongkang-ongkang kaki, maunya cuma dapat hasil, reward dan pujian atas kerja keras orang lain.
Salam,
as3
Salam,
as3
Subscribe to:
Posts (Atom)